Harita Nickel pastikan stok sulfur untuk HPAL aman sampai Oktober

Selasa, 30 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mengakui terdapat gangguan distribusi sulfur yang dibutuhkan dalam proses pengolahan nikel di fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) akibat penutupan Selat Hormuz pada kuartal I 2026 lalu.

Namun, Perseroan meyakinkan publik bahwa suplai sulfur miliknya masih cukup hingga Oktober 2026 mendatang.

“Sampai saat ini pun, kami tidak mengalami kendala untuk restock sulfur,” ungkap Suparsin Darmo Liwan, Direktur Keuangan NCKL dalam gelaran Paparan Publik, Selasa (30/6).

Ia menjelaskan bahwa Perseoan berusaha mengurangi ketergantungan terhadap satu supplier melalui diversifikasi. “Tidak cuma terkonsentrasi dari satu negara atau dari Timur Tengah,” ujarnya.

Selain itu, Suparsin menambahkan bahwa Perseroan telah mengantisipasi ketersediaan pasokan sulfur sejak harganya yang meningkat pada akhir 2025 lalu.

“Jadi, dari akhir tahun 2025 pun kami sudah terus memastikan pasokan sulfur dan stok yang ada di site kami itu cukup – bahkan bisa mencapai minimal 3 sampai 4 bulan produksi,” imbuhnya.

Namun, ia mengakui bahwa harga bahan baku tersebut telah merangkak naik, dan berpotensi mendorong peningkatan harga jual Perseroan secara bertahap ke depannya.

Sebagai catatan, Harita Nickel mengoperasikan dua fasilitas HPAL bersama dengan mitra asal Cina, Lygend, yaitu PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Obi Nickel Cobalt (ONC). Keduanya kini memiliki masing-masing tiga jalur produksi.

HPL memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt sulfat, yang merupakan bahan baku baterai kendaraan listrk (EV). Sementara itu, ONC hanya memproduksi MHP.

Selain HPAL, Perseroan juga memiliki tiga fasilitas RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan total 24 lini produksi, dan memiliki kapasitas gabungan sebesar 305 ribu ton per tahun.

Kapasitas tersebut meningkat signifikan usai salah satu RKEF miliknya, yang dikelola PT Karunia Permai Sentosa, merampungkan ekspansi lini produksi menjadi 12 jalur pada akhir semester I 2026.

“Beberapa line sedang dalam tahap ramping up dan akan segera mencapai kapasitas produksi secara maksimal di akhir tahun ini,” kata Roy Arman Arfandy, Direktur Utama Harita Nickel, dalam kesempatan yang sama.

Peningkatan kinerja pada fasilitas pengolahan (smelter) nikel milik Perseroan juga mendorong kontribusi pendapatan dari segmen penambangan nikel melonjak dua kali lipat pada akhir 2025 dan kuartal I 2026.

Kontribusi segmen penambangan nikel melonjak dari 12,68% menjadi 24,22% pada akhir tahun 2025, sedangkan di kuartal I 2026, kontribusi penjualan bijih nikel juga naik dari 16,16% mnjadi 32,51%.

Manajemen juga memperkirakan tren ini berlanjut hingga akhir 2026.

“Untuk kebutuhan produksi RKEF, dari segmen penambangan nikel akan mengirimkan bijih nikel lebih banyak … sehingga di tahun 2026 ini, diharapkan peningkatan dari penambangan nikel akan jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Suparsin.

Dari segi profitabilitas, hal ini memberikan margin yang lebih tinggi, karena penjualan bijih nikel tidak memperhitungkan biaya produksi dan bahan baku. Namun, menurut Suparsin, dari segi nilai, produk olahan akan memberikan nilai yang lebih tinggi.

“Dari sisi nilai, dari penambangan nikel, tentu akan lebih kecil karena secara volume dia besar tapi per ton – harga per ton nikelnya – dia jauh lebih murah dibandingkan segmen pengolahan nikel,” tambahnya.

Efek pelemahan rupiah

Selain itu, manajemen juga mengaku diuntungkan dari pelemahan rupiah terhadap dolar. Di segmen pengolahan nikel, produknya dijual dalam rupiah, sedangkan di segmen penambangan, harga jual bijih nikel berpatokan pada LME (London Metal Exchange) – yang menggunakan dolar, yang kemudian dikonversi ke rupiah.

“Jadi, secara kesimpulan, kenaikan USD justru menguntungkan perusahaan,” tutup Suparsin.

Sejalan dengan hal tersebut, dalam laporan keuangan kuartal I 2026, Perseroan menyatakan bahwa tiap 1% kenaikan rupiah terhadap dolar AS, terdapat risiko penurunan laba sebelum pajak hingga Rp27,37 miliar.

Sebaliknya, tiap 1% penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar, maka NCKL berpotensi mencatatkan kenaikan laba sebelum pajak hingga Rp27,37 miliar. (ZH)