Harga minyak cetak penurunan kuartalan tertajam sejak 2020

Selasa, 30 Juni 2026

image

WASHINGTON – Harga minyak turun pada perdagangan Selasa (30/6) dan berada di jalur penurunan kuartalan terdalam sejak pandemi Covid-19 pada awal 2020.

Pelemahan terjadi seiring pelaku pasar mencermati peluang perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Doha, di tengah rapuhnya gencatan senjata sementara dalam konflik yang telah berlangsung selama empat bulan.

Seperti dikutip Reuters, harga minyak mentah Brent kontrak Agustus, yang berakhir pada Selasa (30/6), turun 0,41% atau 30 sen menjadi US$72,85 per barel pada pukul 08.24 GMT.

Sepanjang Juni, kontrak ini telah melemah sekitar 21% dan mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Sementara itu, kontrak Brent September turun 0,1% atau 7 sen menjadi US$73,84 per barel.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus turun 0,2% atau 13 sen menjadi US$70,62 per barel. Kontrak tersebut juga berada di jalur penurunan bulanan kedua berturut-turut dengan pelemahan sekitar 20% sepanjang Juni 2026.

Harga Brent maupun WTI kini telah kembali mendekati level sebelum terjadinya perang.

"Meredanya ketegangan antara AS dan Iran memang memberikan perkembangan positif bagi pasar keuangan global. Namun, hal itu tidak boleh diartikan sebagai berakhirnya ketidakpastian di sektor energi," kata Analis Senior Pasar XS.com Rania Gule.

Tim perunding Iran dan AS dijadwalkan berada di Doha pekan ini. Namun, Iran pada Senin (29/6) menyatakan belum ada agenda pertemuan yang dijadwalkan setelah saling serang rudal pada akhir pekan menguji efektivitas gencatan senjata sementara.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa para ahli dari Iran dan Oman akan memulai pembahasan dalam beberapa hari ke depan untuk menyusun kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa Iran akan berupaya menghalangi kapal yang melintas di luar jalur yang telah ditetapkan.

Meski demikian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak akan ada perundingan dengan pihak AS dalam beberapa hari ke depan.

Ketidakpastian mengenai terlaksananya perundingan menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni 2026. Konflik tersebut telah mengganggu arus pasokan minyak global melalui Selat Hormuz sekaligus menjadi tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu Kongres pada November 2026.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Morgan Stanley memangkas proyeksi harga minyak Brent bertanggal (dated Brent) untuk 2027 sebesar US$5 menjadi US$75 per barel pada paruh pertama tahun dan US$70 per barel pada paruh kedua. Revisi tersebut didasarkan pada proyeksi peningkatan persediaan minyak komersial di negara-negara anggota OECD.

Bank investasi itu juga memperkirakan pasar minyak global akan mengalami surplus pasokan tersirat sebesar 4,8 juta barel per hari pada 2027.

Sementara itu, data pelayaran menunjukkan produsen minyak di Timur Tengah tetap melanjutkan pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) meski kembali terjadi serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta eskalasi konflik antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Meski demikian, volume lalu lintas kapal pada pekan lalu justru mencapai level tertinggi sejak konflik pecah pada akhir Februari. (ARF)