Reli indeks Jepang, Taiwan, dan Korea siap berlanjut didorong tren AI
Rabu, 01 Juli 2026
JAKARTA – Bank DBS memproyeksikan kinerja indeks acuan Asia Utara – termasuk Jepang, Taiwan, dan Korea – akan melanjutkan relinya sepanjang tahun 2026.
Menurut CIO North Asia DBS Yeang Cheng Ling, penguatan ini didukung tren permintaan chipset semikonduktor yang melonjak secara global, seiring meningkatnya kebutuhan komponen tersebut untuk AI (artificial intelligence).
“Kami meyakini tren ini akan berlanjut, karena AI akan membutuhkan lebih banyak microprocessor dan chipset – tidak pernah dalam jumlah sebanyak ini sebelumnya,” ujarnya dalam gelaran DBS CIO Insights Q3 2026, Selasa (30/6).
Dengan isu keterbatasan energi yang sering kali dibenturkan dalam industri AI, fokus permintaan pasar akan bergeser kepada chipset yang efisien – mendorong inovasi chipset dengan ukuran nanometer yang lebih kecil, lebih padat, namun lebih kompleks.
Sehingga, menurut Cheng Ling, semua rantai pasok chipset akan bergerak membentuk sebuah ekosistem yang solid, mulai dari hulu, hilir, peralatan, desain semikonduktor dan IC (integrated circuit), hingga power supply.
“Kami meyakini bahwa tren ini secara keseluruhan akan menciptakan iklim investasi yang kuat di seluruh penjuru Asia Pasifik,” imbuhnya.
Asia, terutama Asia Utara termasuk Cina, memang kini dikenal sebagai pusat manufaktur atau pembuatan wafer (wafer foundry), yang menjadi komponen utama semikonduktor.
Namun, titel ini tidak muncul dalam semalam. Keunggulan ini, menurut Cheng Ling, diciptakan melalui ekosistem yang dibangun sejak empat dekade terakhir, dan kini tidak terkalahkan.
Saat dunia mulai kekurangan kapasitas wafer foundry, yang terjadi seiring dengan migrasi tekonologi ke Asia, keunggulan strategis ini menjadi tumpuan. “Jadi, tentu saja, Korea dan seluruh Asia Utara menuai keuntungan dari situasi ini secara langsung,” katanya.
Sebagai gambaran, indeks Korea Selatan KOSPI meroket 96,69% sejak awal tahun, kini menyentuh 8.476,48 pada penutupan perdagangan Selasa (30/6).
Sementara itu, indeks Taiwan TAIEX melesat 57,16% dalam enam bulan pertama 2026 ke 46.125,91, dan indeks Jepang Nikkei 225 tercatat tumbuh 35,17% ke level 70.062,32.
Di sisi lain, Cheng Ling melihat bahwa sebagian industri tradisional di Asia belum sepenuhnya mengadopsi transformasi digital ini. Kinerja saham maupun keuangannya melambat dibandingkan peers, karena belum mampu meningkatkan “pricing power.”
Namun, ia juga masih memperhitungkan kemungkinan bahwa perusahaan-perusahaan konvensional tersebut beradaptasi dan mulai menggalakkan transformasi digital, meningkatkan pricing power, hingga mengikuti tren AI.
“Jadi, kami tidak menutup peluang bagi sektor-sektor yang belum menunjukkan kinerja yang baik, namun kami melihat peluang tumbuh ketika mereka mulai mengubah fokusnya,” pungkasnya. (ZH)