Jerome Powell: Amerika bisa andalkan kenaikan produktivitas
Jumat, 12 Desember 2025

ORLANDO – Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengakui pada Rabu bahwa tidak ada jalur “tanpa risiko” bagi bank sentral dalam menurunkan inflasi yang masih tinggi sembari menjaga pasar tenaga kerja yang mulai melemah.Seperti dikutip reuters.com, namun ia menyiratkan bahwa ada satu kartu penyelamat: produktivitas yang meningkat.Dalam konferensi pers seusai pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan rilis proyeksi ekonomi terbaru, Powell menyatakan bahwa lonjakan produktivitas dapat menjadi kunci untuk menyeimbangkan pertumbuhan yang tetap solid, inflasi yang lengket, dan pasar tenaga kerja yang melunak.Produktivitas yang lebih tinggi berarti pekerja menghasilkan lebih banyak output per jam. Ini membantu menahan biaya tenaga kerja per unit sehingga menekan inflasi, sekaligus mendukung kenaikan upah, daya beli, dan aktivitas ekonomi keseluruhan.Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa pejabat Fed memproyeksikan kondisi ekonomi 2026 yang lebih optimistis dan hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tambahan tahun depan.Pembuat kebijakan menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB 2026 menjadi 2,3% dari sebelumnya 1,8%, dan menurunkan proyeksi inflasi utama menjadi 2,4% dari 2,6%.Powell menjelaskan hampir separuh revisi pertumbuhan tersebut berasal dari pemulihan aktivitas pasca penutupan pemerintahan (government shutdown), sementara sisanya didorong oleh produktivitas yang kuat.Ia juga menegaskan bahwa produktivitas tinggi AS sekitar 2% dalam beberapa tahun terakhir sebenarnya sudah terjadi sebelum lonjakan teknologi AI, meski teknologi baru itu kini ikut berperan.“Tidak ada jalur bebas risiko untuk kebijakan moneter,” kata Jeffrey Roach, ekonom LPL Financial, sejalan dengan pandangan Powell. “Namun tampaknya komite mengandalkan produktivitas tinggi untuk menopang pertumbuhan meski penciptaan lapangan kerja melemah.”Namun narasi produktivitas ini memiliki sejumlah potensi masalah.Pertama, menjadikannya sebagai solusi utama adalah perjudian karena produktivitas sulit diprediksi, bahkan diukur secara akurat, dan dampak ekonomi dari AI masih terlalu dini untuk dipastikan.Institute of International Finance memperingatkan bahwa jika adopsi AI hanya terpusat pada segelintir perusahaan besar, maka manfaatnya bisa cepat mencapai puncak dan pertumbuhan ekonomi akan kembali rentan setelah siklus investasi saat ini mereda.Selain itu, dampak positif AI pada produktivitas juga dapat disertai gelombang PHK besar-besaran, yang menurut Powell, berpotensi menciptakan implikasi sosial dan pasar tenaga kerja yang belum ada alat untuk mengatasinya.Kedua, produktivitas yang tinggi dan berkelanjutan akan mendorong pertumbuhan lebih cepat dan menaikkan tingkat suku bunga netral atau r-star, yakni suku bunga yang tidak merangsang maupun menahan ekonomi saat inflasi stabil dan tenaga kerja penuh.Powell mengatakan kebijakan saat ini berada di kisaran netral, mengingat suku bunga telah diturunkan 175 bps sejak September tahun lalu.
Tetapi jika memang terjadi lonjakan produktivitas dan potensi pertumbuhan meningkat, baik r-star maupun suku bunga The Fed seharusnya berada pada level lebih tinggi.Dalam kondisi itu, kebijakan saat ini bisa jadi terlalu longgar. (DK)