Kinerja ekonomi AS tak lagi sejalan dengan pasar saham

Rabu, 01 Juli 2026

image

NEW YORK – Kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tetap kuat dinilai tidak lagi sejalan dengan pergerakan pasar saham. Meningkatnya suku bunga riil serta besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengubah sentimen investor terhadap aset berisiko.

Dikutip dari Reuters, data ekonomi AS sepanjang Juni 2026 menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja dan belanja konsumen masih kuat, sementara kepercayaan masyarakat juga terus membaik.

Namun, kondisi tersebut tidak diikuti oleh pasar saham. Indeks Nasdaq dan S&P 500 mencatat pelemahan sepanjang bulan, sementara kelompok saham teknologi Magnificent Seven turun lebih dari 10%.

Di saat yang sama, obligasi pemerintah AS justru menguat sehingga mendorong imbal hasil turun, meski inflasi telah menembus 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Chief Fixed Income Strategist Janney Montgomery Scott, Guy LeBas, mengatakan bahwa daya beli konsumen tetap terjaga meski harga energi meningkat.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ekonomi AS masih lebih tangguh dibandingkan dengan perkiraan awal tahun sehingga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Suku bunga riil jadi perhatian

Reuters menilai investor kini menghadapi tantangan baru akibat kenaikan suku bunga riil yang dipicu lonjakan investasi AI.

Sikap hawkish Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS masih berpotensi menaikkan suku bunga. Meski demikian, sebagian analis menilai langkah tersebut belum tentu dilakukan karena kondisi keuangan yang sudah semakin ketat.

Tekanan tersebut telah mendorong penurunan harga emas, bitcoin, serta saham perusahaan teknologi seperti Microsoft dan Meta.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan di Wall Street terus menerbitkan saham maupun obligasi dalam jumlah besar untuk membiayai investasi AI. Kondisi itu menunjukkan permintaan investor terhadap aset tersebut masih cukup kuat.

Analis Goldman Sachs, Kamakshya Trivedi, mengatakan meredanya konflik di Timur Tengah dan turunnya harga minyak menciptakan kondisi fundamental ekonomi yang lebih baik. Namun, valuasi saham saat ini dinilai sudah sangat tinggi, terutama di sektor AI yang kini menjadi sumber utama volatilitas pasar saham.

Belanja AI jadi penopang ekonomi

Volatilitas pasar juga dipicu oleh perpindahan dana investor dari satu saham momentum ke saham lainnya.

Sejak ketegangan perang mereda pada akhir Maret 2026, indeks saham semikonduktor melonjak sekitar 87% sepanjang tahun. Saham Micron naik hampir empat kali lipat, sementara Intel dan Marvell Technology masing-masing meningkat sekitar tiga kali lipat.

Sebaliknya, kelompok Magnificent Seven, yang dipimpin Nvidia, Apple, dan Alphabet, justru mencatat kinerja negatif sepanjang tahun setelah menjadi penyumbang sekitar 40% kenaikan indeks S&P 500 pada 2025.

Sejumlah investor menilai perubahan sentimen mulai terjadi ketika perusahaan teknologi besar seperti Oracle, Amazon, dan Alphabet meningkatkan penerbitan utang untuk membiayai pembangunan infrastruktur AI.

Dalam 12 bulan terakhir, Amazon dan Alphabet menerbitkan obligasi senilai sekitar US$60 miliar, sementara penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi berperingkat investasi telah melampaui total sepanjang 2025 dan diperkirakan mencapai US$250 miliar tahun ini.

Chief Executive Officer Longbow Asset Management, Jake Dollarhide, mengatakan manfaat terbesar investasi AI saat ini justru dinikmati oleh perusahaan penyedia teknologi, seperti produsen cip, bukan perusahaan yang mengeluarkan belanja modal besar untuk membangun infrastruktur AI.

Sebagian investor juga mulai mengkhawatirkan potensi pengurangan belanja modal AI oleh perusahaan teknologi besar apabila tekanan terhadap harga saham terus berlanjut.

Kendati demikian, LeBas menilai belanja modal korporasi masih menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi AS. Ia menilai sulit terjadi perlambatan ekonomi yang signifikan selama perusahaan teknologi terbesar masih berencana menggelontorkan investasi hingga sekitar US$700 miliar untuk proyek-proyek AI dalam beberapa tahun mendatang.

Meski demikian, Dollarhide mengatakan masih terlalu dini untuk memperkirakan pemangkasan belanja modal karena investor di pasar AS selama ini cenderung memanfaatkan setiap koreksi harga sebagai peluang untuk kembali membeli saham. (ARF)