Harga emas menguat, pasar menanti laporan payroll AS
Kamis, 02 Juli 2026
JAKARTA - Harga emas menguat pada perdagangan Kamis, didukung oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan serta penurunan harga minyak.
Seperti dikutip Reuters, fokus pasar kini tertuju pada laporan Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis hari ini untuk mendapatkan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 0,7% menjadi US$4.057,92 per ounce pada pukul 02.51 GMT, setelah pada sesi sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Juni.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun tipis 0,3% ke US$4.070,10 per ounce.
Pada perdagangan Rabu, emas sempat bergerak mendekati level terendah dalam lebih dari tujuh bulan sebelum akhirnya ditutup menguat di US$4.029,89 per ounce, menyusul rilis data ketenagakerjaan sektor swasta yang lebih rendah dari ekspektasi.
Nicholas Frappell, Global Head of Institutional Markets di ABC Refinery, mengatakan pasar masih berhati-hati untuk mengambil posisi jual karena setiap penurunan harga dengan cepat direspons oleh aksi beli.
Menurutnya, data tenaga kerja versi ADP yang berada di bawah perkiraan menjadi salah satu faktor yang mendorong reli emas.
Pelaku pasar menilai pelemahan tersebut dapat tercermin dalam laporan Non-Farm Payrolls, sehingga meningkatkan harapan terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar.
Laporan ADP menunjukkan bahwa sektor swasta AS menciptakan 98.000 lapangan kerja pada bulan lalu, setelah mencatat kenaikan 122.000 pada Mei.
Angka tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan penambahan 118.000 lapangan kerja.
Di sisi lain, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan bahwa ekspektasi dan risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menurunkan inflasi menuju target 2%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 64% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September.
Investor kini menantikan rilis data Non-Farm Payrolls bulan Juni yang dijadwalkan terbit hari ini, sebagai indikator penting untuk mengukur arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
Sementara itu, harga minyak melemah setelah Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran terbaru pembicaraan tidak langsung pada Rabu yang berfokus pada isu Selat Hormuz, meski belum menghasilkan kemajuan signifikan menuju kesepakatan damai yang berkelanjutan.
Harga minyak yang tinggi serta pasar tenaga kerja yang kuat berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tetap tinggi karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,6% menjadi US$60,06 per ounce, platinum menguat 2% ke US$1.607,67 per ounce, dan paladium bertambah 1,4% menjadi US$1.227,13 per ounce. (DK)