Harga minyak tertekan 3 hari berturut-turut usai perundingan AS-Iran
Kamis, 02 Juli 2026
NEW YORK - Harga minyak dunia turun sekitar 1% pada perdagangan Kamis (2/7), melanjutkan pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut setelah Qatar mengungkapkan bahwa Iran dan Amerika Serikat mencatat kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung mengenai Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa perundingan tersebut menghasilkan "kemajuan positif" terkait sejumlah poin dalam nota kesepahaman yang mengakhiri konflik pada Juni lalu.
Seperti dikutip Reuters, meski demikian, belum ada indikasi bahwa kedua negara berhasil mencapai kemajuan menuju kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Hingga pukul 02.56 GMT, kontrak berjangka minyak Brent turun 77 sen atau 1,1% menjadi US$70,80 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 84 sen atau 1,2% ke level US$67,74 per barel.
Pada sesi sebelumnya, kedua acuan harga minyak tersebut juga telah terkoreksi lebih dari 1%, sehingga menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir.
Haitong Futures dalam laporannya menyebutkan bahwa tetap terbukanya Selat Hormuz dan lancarnya arus ekspor minyak memicu ekspektasi kelebihan pasokan di pasar.
Kondisi tersebut, ditambah persaingan untuk mempertahankan pangsa pasar, memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan bahwa negara-negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC+ diperkirakan akan menyetujui kenaikan target produksi mulai Agustus dalam pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu.
Di sisi lain, UBS pada Kamis memangkas proyeksi harga minyak Brent dengan mempertimbangkan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Bank tersebut memangkas proyeksi rata-rata harga Brent untuk kuartal September sebesar US$25 per barel dan untuk kuartal Desember sebesar US$10 per barel.
UBS kini memperkirakan harga Brent rata-rata berada di level US$80 per barel pada paruh kedua tahun ini dan sekitar US$75 per barel pada 2027.
Meskipun demikian, UBS menilai masih terlalu dini untuk menganggap kondisi pasar telah sepenuhnya kembali normal.
Menurut bank tersebut, risiko harga masih cenderung mengarah ke kenaikan karena jumlah kapal tanker yang masuk ke Teluk Persia masih lebih sedikit dibandingkan kapal yang keluar.
Kementerian Luar Negeri Qatar juga menyampaikan bahwa putaran berikutnya perundingan antara negosiator Iran dan Amerika Serikat akan digelar setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 9 Juli. (DK)