Tak sebullish yang lain, WGC proyeksi emas tertahan di kisaran US$4100
Kamis, 02 Juli 2026
JAKARTA – World Gold Council (WGC) memperkirakan harga emas cenderung bergerak terbatas pada paruh kedua 2026, berbeda dengan sejumlah bank investasi yang masih memproyeksikan reli berlanjut hingga menembus USD 5.000 per ons.
Menurut WGC, harga emas saat ini sudah mencerminkan kondisi makroekonomi terkini, termasuk proyeksi tren kenaikan suku bunga secara global, laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi dunia, hingga posisi dolar AS.
Oleh karena itu, jika kondisi tersebut tak berubah signifikan hingga akhir 2026, WGC memproyeksikan emas dapat diperdagangkan 5% lebih rendah atau lebih tinggi dari kisaran US$4.100 per troi ons pada semester II 2026.
Harga emas bahkan bisa jatuh lebih dalam jika dolar Amerika Serikat dan ekonomi terus menguat, yang membuat pasar saham terlihat lebih atraktif daripada emas yang cenderung lebih berfungsi sebagai lindung nilai.
Dari sisi teknikal, aksi jual dan pelemahan nilai bahkan dapat terus terjadi jika support psikologis di level US$3.860 jebol.
Namun, menurut analisis WGC, penurunan harga paling signifikan sepanjang sisa tahun hanya akan mencapai 10-15% dari harga saat ini.
“Penurunan lebih dalam kemungkinan akan terbatas, karena secara historis, harga yang rendah akan memicu aksi beli dari berbagai sektor,” jelas WGC dalam laporan tengah tahunnya, Selasa (1/7).
Skenario bullish butuh katalisDi sisi lain, WGC tak menutup peluang emas bergerak naik lagi. “Namun membutuhkan katalis yang jelas,” tegas WGC dalam laporan tengah tahunnya, Selasa (1/7).
Salah satu dari tiga faktor yang bisa menjadi bahan bakar reli emas selanjutnya adalah kondisi ekonomi atau geopolitik yang memburuk. Analisis WGC menyebutkan bahwa kenaikan 100 poin pada Geopolitical Risk (GPR) Index dapat mendorong harga emas naik hingga 2,5%.
Selain itu, meski the Fed kini diproyeksikan mulai bergerak hawkish – terutama setelah dipimpin Kevin Warsh – pemerintahan Donald Trump masih terus menekan bank sentralnya untuk menurunkan suku bunga.
Jika suku bunga turun, diikuti penurunan imbal hasil US Treasury, hal ini akan menguntungkan posisi emas. Analisis WGC menyebutkan bahwa tiap penurunan 25 bps pada imbal hasil US Treasury 10 tahun, harga emas naik 1,75%.
WGC juga menyoroti bahwa partisipasi investor emas jangka panjang yang meningkat – termasuk sovereign wealth fund (SWF), dana pensiun, hingga asuransi – berpotensi menstabilkan bahkan memperkuat harga emas dalam jangka panjang.
Target bank investasi globalPada pukul 16.00 WIB, Kamis (2/7), emas diperdagangkan di pasar spot di level US$4.076, naik 1,11% dalam satu hari.
Namun, level tersebut sudah merosot 27% dari level tertingginya sepanjang masa pada Januari lalu di level US$5.589 – atau turun 7% dari awal tahun.
Meski penurunan harga sudah cukup signifikan dan volatilitas melonjak hingga 50%, beberapa bank investasi global masih menargetkan harga emas di kisaran US$5.000.
Laporan JP Morgan per awal Juni masih menargetkan harga emas di kisaran US$5.300-6.000 di paruh kedua 2026. Bank DBS juga masih memproyeksikan emas menyentuh level US$5.000-5.300 pada paruh kedua 2026.
Sementara itu, target atau proyeksi emas Goldman Sachs, Citigroup, dan Deutsche Bank untuk enam bulan ke depan lebih konservatif di level US$4.900, US$4.500, dan US$4.300.
Namun, pada akhirnya, laporan tengah tahun WGC dan proyeksi analis bank global terhadap harga emas di 2026 masih menyoroti dampak dari berbagai faktor yang menjadi katalis atau penghambat laju harga komoditas emas. (ZH)