KB Financial Group prioritaskan pasar Indonesia, KB Bank berbenah

Jumat, 03 Juli 2026

image

 

JAKARTA – PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) atau KB Bank mengungkap strategi transformasi bisnis untuk menangkap peluang pasar Indonesia setelah pengendali dan induk grupnya, KB Financial Group (KBFG), menetapkan Indonesia sebagai salah satu pasar prioritas di luar Korea Selatan.

KBFG adalah salah satu konglomerasi keuangan terbesar Korea Selatan. Hadir di 14 negara, KBFG mulai memasuki pasar Indonesia melalui posisinya sebagai pemegang saham pengendali BBKP pada tahun 2020.

Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, menegaskan bahwa sebagai bagian dari jaringan globalnya, KBFG menempatkan Indonesia sebagai “second mother market,” istilah yang menggambarkan pasar di luar negara asal yang menjadi fokus utama bisnis sebuah perusahaan.

“Mencerminkan komitmen jangka panjang KB Financial Group terhadap pertumbuhan industri keuangan di Indonesia, sebagai salah satu pasar yang paling potensial di kawasan,” jelasnya.

Menurutnya, komitmen ini ditunjukkan dengan keberadaan 8 entitas KBFG di Indonesia yang mencakup hampir seluruh sektor keuangan. Selain perbankan, ada perusahaan sekuritas, asuransi, multifinance, hingga asset management.

Untuk mengintegrasikan bisnis tersebut, Im Jang Hyuk, Direktur KB Bank, menyatakan bahwa KBFG tengah dalam proses mendirikan PIKK (Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan) KB Financial Holding Indonesia, yang akan diluncurkan dalam waktu dekat.

KBFG juga telah memberikan dukungan likuiditas bagi KB Bank. Tahun ini, KB Bank sudah mulai dapat mengakses line hingga Rp1 triliun.

“Sejak awal sampai saat ini, ada sekitar Rp50 triliun yang sudah di-support oleh KBFG,” tambahnya.

Ecosystem banking: Follow the money

Komitmen KBFG tersebut akan diterjemahkan KB Bank melalui strategi ecosystem banking, yang diharapkan menjadi mesin baru pertumbuhan kredit Perseroan.

Segmen wholesale diposisikan menjadi pintu pertama untuk menggenjot kredit, kemudian menangkap pasar ritel. Widodo Suryadi, Direktur Wholesale Banking KB Bank, mencontohkan salah satu kesuksesan dari fasilitas pembiayaan di ekosistem rumah sakit.

“Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga mengambilkan layanan cash management, penelolaan rekening operasional, payroll … hingga solusi pembayaran yang terintegrasi dengan BPJS dan perusahaan asuransi,” jelas Widodo.

Hal ini juga termasuk memperluas layanan kepada penyedia alat-alat kesehatan dan merchant supplier lain. Ke depannya, strategi yang sudah teruji ini akan diaplikasikan kepada sektor-sektor strategis lain.

Sejalan dengan ini, Widodo menjelaskan bahwa segmen retail akan menyasar produk dan layanan dengan tingkat loyalitas yang tinggi, seperti payroll, KPR, pengelolaan emas, dan fasilitas transaksi lain.

Menurut Widodo, dasar dari banking adalah pembayaran dan pertukaran uang. Widodo menyebut pendekatan tersebut sebagai follow the money.

“Nah, kita telusuri saja uangnya ini ke mana. Dari mana, ke siapa, oleh siapa. Di situ itu, kita sebenarnya sudah bisa membangun ekosistem,” tegasnya.

Performa dan kualitas kredit

Meski strategi baru mulai dijalankan, kinerja kredit KB Bank masih menghadapi tantangan. Seperti yang diberitakan IDNFinancials sebelumnya, kredit bank-only KB Bank merosot tipis menjadi Rp43,19 triliun per akhir kuartal I 2026.

Dengan langkah transformasi bisnis dan tata kelola yang tengah digencarkan KB Bank, Perseroan pun merevisi turun target kredit ini, dari 15% menjadi sesuai arahan BI dan OJK di level 8-12%.

Pasalnya, KB Bank juga harus berhati-hati menjaga kualitas kreditnya di tengah kondisi ekonomi yang cukup menantang. NPL gross KB Bank per kuartal I 2026 masih berada di level 9,83%, sedangkan NPL net berada di level 6,21%.

Perseroan menyatakan akan lebih selektif dan prudent dalam proses penyaluran kredit, termasuk penilaian dan pemantauan, agar portofolio kredit tidak semakin memburuk.

“Jadi, pertumbuhan kredit itu akan menjadi moderat. Tidak lagi kami semata-mata mengejar volume atau target. Prinsip kehati-hatian itu, kan, sangat penting, ya,” kata Widodo.

Di bottom line, Perseroan memang berhasil membalikkan rugi menjadi laba bersih konsolidasian sebesar Rp65,9 miliar pada akhir 2025.

Namun, Im Jang Hyuk menjelaskan bahwa proses restrukturisasi KB Bank yang berjalan sejak akhir tahun lalu, serta downsizing di level organisasi, baru tercatat di kuartal I 2026.

Hal ini berdampak pada bengkaknya biaya operasional dan rendahnya profitabilitas Perseroan di kuartal pertama, sehingga laba bersih menyusut hampir 100% secara tahunan.

Namun, Perseroan akan berupaya untuk mempertahankan profitabilitasnya di periode-periode berikutnya di tahun 2026. “Agar hal tersebut [pencatatan laba] bisa juga timbul nanti sampai di akhir tahun,” pungkasnya. (ZH)