Asing cabut US$22 miliar dari bursa Asia, RI justru banjir inflow

Jumat, 12 Desember 2025

image

JAKARTA – Pasar ekuitas Asia mengalami guncangan arus modal yang signifikan pada bulan November 2025. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) masif senilai total US$22,1 miliar di seluruh kawasan, menandai arus keluar bulanan terbesar dalam hampir enam tahun terakhir.

Aksi lepas saham ini didorong oleh kekhawatiran terhadap valuasi saham-saham teknologi yang dianggap sudah terlalu mahal (stretched valuations) pasca reli panjang yang dipicu oleh euforia kecerdasan buatan (AI).

Seperti dilansir dari Reuters (11/12), data LSEG menunjukkan bahwa angka outflow November ini adalah yang terparah sejak Maret 2020, saat awal pandemi Covid-19 memicu kepanikan global dengan net sell US$33,32 miliar. Taiwan dan Korea Selatan menjadi korban terberat akibat eksposur tinggi mereka terhadap sektor teknologi; Taiwan mencatat arus keluar US$ 12,04 miliar, sementara Korea Selatan kehilangan US$ 9,75 miliar angka bulanan terburuk bagi Seoul sejak Maret 2020.

Herald van der Linde, Kepala Strategi Ekuitas Asia Pasifik di HSBC, menjelaskan bahwa investor mulai cemas mengenai konsentrasi perdagangan pada segelintir saham AI, di mana penyimpangan kecil dari ekspektasi pasar yang tinggi dapat memicu fluktuasi besar.

Namun, di tengah gelombang outflow regional tersebut, Indonesia justru tampil kontrarian dengan kinerja positif. Bursa saham Indonesia berhasil menarik arus masuk modal asing (net foreign inflow) sebesar US$731 juta, melawan tren negatif yang melanda negara tetangga seperti Thailand (minus US$388 juta), Vietnam (minus US$286 juta), dan India (minus US$425 juta). Sementara Filipina juga mencatatkan inflow tipis sebesar US$59 juta.

Penting dicatat bahwa aksi jual ini terjadi di tengah performa pasar yang sebenarnya sangat solid. Indeks MSCI Asia-Pasifik tercatat telah melonjak 23,13 persen sepanjang tahun ini (year-to-date), menempatkannya di jalur untuk mencatatkan kinerja tahunan terbaik dalam delapan tahun terakhir.

Hal ini mengindikasikan bahwa outflow November sebagian besar merupakan aksi ambil untung (profit taking) yang sehat. Memasuki Desember, sentimen pun mulai pulih dengan Taiwan dan Korea Selatan kembali mencatatkan inflow masing-masing US$ 2,58 miliar dan US$ 1,84 miliar pada pertengahan pekan ini. (SF)