Zohran Mamadni serukan boikot Starbucks, mengapa?

Minggu, 16 November 2025

image

JAKARTA — Seruan boikot terhadap Starbucks kembali menguat setelah Wali Kota-terpilih New York City, Zohran Mamdani, meminta publik untuk tidak membeli produk Starbucks hingga perusahaan menyepakati kontrak dengan para pekeranya.

Kampanye ini mengusung slogan “No Contract, No Coffee”, yang kini meluas di media sosial dan komunitas pekerja.

Aksi tersebut muncul di tengah perselisihan antara Starbucks dan serikat pekerja yang telah lama menuntut kontrak kerja yang dianggap lebih adil, termasuk peningkatan upah, kondisi kerja yang lebih baik, serta kepastian perlindungan bagi barista yang aktif dalam gerakan serikat.

Mamdani menyebut langkah boikot sebagai bentuk solidaritas terhadap para pekerja yang sedang melakukan pemogokan. Menurutnya, tekanan publik diperlukan agar perusahaan berskala global tersebut mempercepat proses negosiasi dan memberikan komitmen yang jelas terhadap kesejahteraan karyawan.

Seperti dikutip timesofindia.indiatimes.com, Sabtu (15/11), Starbucks hingga kini belum memberikan komentar langsung terkait seruan boikot terbaru ini.

Namun, sebelumnya perusahaan menyatakan tetap terbuka pada proses dialog, meskipun beberapa kali dituduh memperlambat pembentukan kontrak serikat di berbagai gerai.

Gerakan “No Contract, No Coffee” dinilai dapat memberikan tekanan finansial dan reputasi bagi Starbucks jika terus meluas.

Pengamat pasar menilai, dampak jangka pendek pada penjualan ritel memang mungkin terbatas, namun risiko hubungan industrial yang berkepanjangan dapat memengaruhi operasional dan persepsi investor terhadap stabilitas perusahaan.

Hingga saat ini, perselisihan antara Starbucks dan serikat pekerja menjadi salah satu isu hubungan pekerja paling menonjol di sektor ritel Amerika Serikat.

Mamdani menyebut langkah boikot sebagai bentuk solidaritas terhadap para pekerja yang sedang melakukan pemogokan. Menurutnya, tekanan publik diperlukan agar perusahaan berskala global tersebut mempercepat proses negosiasi dan memberikan komitmen yang jelas terhadap kesejahteraan karyawan.

Starbucks hingga kini belum memberikan komentar langsung terkait seruan boikot terbaru ini. Namun, sebelumnya perusahaan menyatakan tetap terbuka pada proses dialog, meskipun beberapa kali dituduh memperlambat pembentukan kontrak serikat di berbagai gerai.

Gerakan “No Contract, No Coffee” dinilai dapat memberikan tekanan finansial dan reputasi bagi Starbucks jika terus meluas. Pengamat pasar menilai, dampak jangka pendek pada penjualan ritel memang mungkin terbatas, namun risiko hubungan industrial yang berkepanjangan dapat memengaruhi operasional dan persepsi investor terhadap stabilitas perusahaan.

Hingga saat ini, perselisihan antara Starbucks dan serikat pekerja menjadi salah satu isu hubungan pekerja paling menonjol di sektor ritel Amerika Serikat.(GA)