Penurunan ekspor minyak Venezuela seret Kuba masuk krisis energi

Minggu, 14 Desember 2025

image

JAKARTA – Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Washington menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela, di saat pemimpin oposisi Maria Corina Machado berikrar mendorong perubahan politik usai menerima Hadiah Nobel Perdamaian.Berdasarkan laporan Reuters (14/12), Machado pada Jumat secara diam-diam meninggalkan Venezuela untuk menghadiri penyerahan Nobel, sembari menyatakan tekadnya membawa perubahan politik ke negaranya. Eskalasi hubungan kedua negara terjadi seiring pengerahan besar-besaran militer Amerika Serikat di kawasan Karibia selatan, ketika Presiden Donald Trump secara terbuka mengampanyekan upaya menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Situasi tersebut mendorong relasi diplomatik Venezuela-AS ke level paling tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir.Ketegangan ini berpotensi berdampak luas ke kawasan Amerika Latin dan Karibia. Penurunan tajam ekspor minyak Venezuela dinilai dapat memperburuk kondisi Kuba yang tengah mengalami krisis energi dan kesulitan menjaga pasokan listrik nasional, dikutip dari Reuters (14/12).Amerika Serikat sebelumnya menyita kapal tanker Skipper di lepas pantai Venezuela pada Rabu, yang menandai penyitaan pertama kargo minyak Venezuela sejak sanksi diberlakukan pada 2019. Reuters menyebutkan, kapal tersebut kini berlayar menuju Houston untuk memindahkan muatannya ke kapal-kapal yang lebih kecil.Pemerintahan Trump hingga kini tidak mengakui Nicolas Maduro, yang berkuasa sejak 2013, sebagai pemimpin sah Venezuela. Washington juga memberi sinyal akan melakukan penyitaan lanjutan terhadap kapal-kapal pengangkut minyak Venezuela sebagai bagian dari upaya menghentikan aliran minyak yang terkena sanksi.Selain itu, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap tiga keponakan istri Maduro serta enam kapal tanker yang disebut terkait dengan mereka.Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di Karibia, menyusul pernyataan Trump yang membuka peluang intervensi militer dengan alasan Venezuela dituduh mengirim narkotika ke Amerika Serikat, dikutip dari Reuters (14/12). Namun, pemerintah Venezuela membantah keras tuduhan tersebut.Sepanjang tahun ini, lebih dari 20 operasi militer AS dilaporkan terjadi di Karibia dan Pasifik terhadap kapal yang diduga membawa narkoba, dengan korban jiwa hampir 90 orang. Kondisi itu memicu kekhawatiran kelompok pembela hak asasi manusia serta perdebatan di Kongres AS terkait legalitas dan transparansi operasi tersebut, menurut laporan Reuters (14/12).Di sisi politik, Machado menentang larangan bepergian selama satu dekade dan masa persembunyian untuk hadir di Oslo, seraya menyatakan bahwa Maduro akan meninggalkan kekuasaan “baik melalui transisi yang dinegosiasikan atau tidak.” Ia menegaskan fokus pada peralihan kekuasaan secara damai dan menyampaikan apresiasi atas dukungan tegas Presiden Trump.Machado diketahui sejalan dengan kelompok garis keras di Amerika Serikat yang menuding Maduro memiliki keterkaitan dengan jaringan kriminal, meski klaim tersebut disebut sempat dipertanyakan oleh intelijen AS. Saat ditanya apakah Venezuela membutuhkan intervensi AS, Machado menyatakan bahwa pihaknya meminta bantuan dunia internasional.Sementara itu, pemerintah Venezuela mengecam penyitaan tanker tersebut sebagai bentuk pencurian terang-terangan dan pembajakan internasional, serta menyatakan akan membawa kasus ini ke lembaga internasional. Di saat bersamaan, parlemen Venezuela mengambil langkah untuk menarik diri dari Mahkamah Pidana Internasional yang tengah menyelidiki dugaan pelanggaran HAM di negara tersebut.Menambah ketegangan, Caracas juga mengumumkan penangguhan penerbangan pemulangan migran dari Amerika Serikat. Namun, seorang pejabat AS menyatakan bahwa penerbangan deportasi akan tetap dilanjutkan. (SA)