Pemerintah percepat B50, target stop impor solar 2026

Minggu, 14 Desember 2025

image

JAKARTA - Indonesia menargetkan penghentian impor solar pada 2026 seiring pemerintah mempercepat program biodiesel dan meningkatkan kapasitas kilang domestik.

Langkah ini dianggap penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar asing, menurut laporan TheStar.com.my (14/12).Salah satu upaya utama adalah penerapan B50 secara nasional, yakni campuran solar yang mengandung 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit. Pemerintah, dalam laporan The Star (14/12), menargetkan B50 mulai digunakan pada paruh kedua 2026, yang menandai pergeseran paling ambisius menuju energi terbarukan di Indonesia.Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menekankan kombinasi program B50 dan peningkatan kilang akan menempatkan Indonesia pada posisi kuat untuk menghentikan impor solar tahun depan.“Kami melanjutkan program B50 wajib dan bersiap meresmikan Master Plan Pengembangan Kilang Balikpapan. Kedua faktor ini mendukung target kami menghentikan impor solar pada 2026,” kata Lahadalia, dikutip dari The Star (14/12).Kilang Balikpapan, bagian dari proyek RDMP, akan menambah kapasitas pengolahan sebanyak 100.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Kilang ini dioperasikan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan, anak perusahaan PT Kilang Pertamina International.Peningkatan kapasitas kilang diperkirakan akan secara signifikan mengurangi kebutuhan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan bahan bakar nasional.Selama ini, Indonesia mengandalkan solar impor untuk transportasi, pembangkit listrik, dan industri, sehingga kebijakan ini dianggap strategis terutama saat harga minyak dunia tinggi.Program B50 juga mendorong pemanfaatan biodiesel dari fatty-acid methyl ester (FAME), yang mayoritas berbahan dasar minyak sawit mentah. Minyak sawit sebagai komoditas ekspor utama dinilai penting untuk meningkatkan pendapatan petani, memperkuat industri hilir, dan mendiversifikasi bauran energi.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat program biodiesel telah menghemat devisa hingga Rp673,73 triliun antara 2020–2025 dengan mengurangi impor diesel fosil dan meningkatkan penggunaan minyak sawit domestik. Program ini juga menciptakan lapangan kerja di sektor perkebunan dan pengolahan.Bahlil menambahkan, penerapan B50 penuh pada 2026 diperkirakan akan menghemat devisa tambahan sekitar Rp179,28 triliun.Saat ini, Indonesia sudah menerapkan mandat biodesel B40, dan peralihan ke B50 diperkirakan akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pengguna biodiesel skala besar terkemuka di dunia serta memperkuat perannya sebagai produsen energi berkelanjutan berbasis sawit. (SA)