Pasokan minyak pulih, ancaman harga belum benar-benar hilang

Selasa, 07 Juli 2026

image

LONDON – Pasar minyak global dinilai mampu menyerap gangguan pasokan akibat perang Iran lebih baik dari perkiraan. Meski demikian, menipisnya cadangan minyak dunia dan belum adanya kepastian perdamaian jangka panjang dinilai masih berpotensi memicu lonjakan harga minyak di masa mendatang.

Dikutip dari Reuters, sejak pecahnya perang Iran, dunia kehilangan lebih dari 1 miliar barel pasokan minyak. Namun, pasar mampu menghindari skenario terburuk berkat pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar, penyesuaian impor oleh Tiongkok, serta pengalihan jalur ekspor oleh sejumlah negara produsen di kawasan Teluk.

Pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026  sempat memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis energi global.

Menurut International Energy Agency (IEA), konflik selama empat bulan tersebut menyebabkan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah dengan kehilangan pasokan mencapai 14 juta barel per hari pada puncaknya.

Meski demikian, kekhawatiran bahwa Asia dan Eropa akan mengalami kekurangan bensin, solar, maupun bahan bakar pesawat tidak pernah benar-benar terjadi.

Harga minyak Brent bahkan kini berada di bawah level saat konflik dimulai setelah sempat menyentuh sekitar US$126 per barel pada April, atau sekitar US$20 lebih rendah dibandingkan rekor harga pada 2008.

Ekonom senior Bank Dunia, John Baffes, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar menilai gangguan pasokan memang serius, tetapi masih dapat dikelola.

"Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pasar menganggap gangguan tersebut serius tetapi masih dapat diatasi, mencerminkan kepercayaan terhadap sistem energi dan ekonomi global yang kini lebih tangguh," ujarnya.

Data Bank Dunia menunjukkan intensitas penggunaan minyak dalam aktivitas ekonomi telah turun lebih dari 50% di negara maju sejak krisis minyak pada 1970-an. Sementara itu, di negara berkembang dan emerging market, penurunannya mencapai sekitar 20%.

Selain perubahan struktural tersebut, terdapat tiga faktor utama yang membantu meredam dampak perang, yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang mengalihkan jalur ekspor, Tiongkok yang mengurangi pembelian minyak, serta pelepasan sekitar 1 miliar barel cadangan minyak oleh berbagai negara, termasuk melalui program pelepasan cadangan terbesar yang dipimpin oleh IEA.

Peran Adopsi Mobil Listrik

Saat perang dimulai, Tiongkok memiliki cadangan minyak sekitar 1,4 miliar barel berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA).

Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan total cadangan minyak milik seluruh 32 negara anggota IEA yang mencapai sekitar 1,2 miliar barel, termasuk 413 juta barel milik AS.

Peneliti Oxford Institute for Energy Studies, Ilia Bouchouev, mengatakan bahwa pesatnya adopsi kendaraan listrik di Tiongkok, serta fleksibilitas produksi minyak dan petrokimia, turut membantu mengurangi tekanan terhadap permintaan global.

"Mereka mengelola pasar jauh lebih baik dibandingkan dengan yang pernah dilakukan OPEC," kata Bouchouev.

Sebagai importir minyak terbesar di dunia, penyesuaian permintaan Tiongkok dinilai berhasil meredakan tekanan di pasar global. Di sisi lain, pelepasan sekitar 400 juta barel cadangan minyak oleh IEA juga memberi ruang bagi pasar di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali menyebut perang akan segera berakhir.

Mantan pejabat IEA, Neil Atkinson, mengatakan bahwa pelaku pasar sejak awal meyakini konflik tersebut tidak akan berlangsung lama.

"Pelaku pasar selalu beranggapan bahwa konflik ini tidak mungkin berlangsung terlalu lama," ujarnya.

Analis Societe Générale juga menilai bahwa narasi pemerintah AS mengenai potensi bertambahnya pasokan minyak membuat hedge fund enggan mempertahankan posisi beli (long position) yang mengandalkan kenaikan harga minyak.

Setelah penandatanganan kesepakatan awal untuk mengakhiri perang pada bulan lalu, aktivitas perdagangan minyak mulai kembali mendekati kondisi normal.

"Pasar tampaknya percaya bahwa perjanjian damai ini benar-benar akan berjalan," kata Atkinson.

Cadangan minyak menipis

Meski demikian, Reuters menilai kondisi pasar belum sepenuhnya kembali seperti sebelum perang.

Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Irak, dan Bahrain memang telah kembali memproduksi serta mengekspor minyak. Namun, perbaikan infrastruktur energi yang rusak akibat serangan Iran diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Selain itu, data lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menunjukkan pemulihan pasokan masih berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan ekspektasi pasar.

Di sisi lain, proses menuju kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran juga masih berjalan lambat. Berbagai isu penting, termasuk masa depan program nuklir Iran, masih belum menemukan titik temu.

Tantangan lain yang dihadapi dunia adalah membangun kembali cadangan minyak global.

Data IEA menunjukkan perekonomian dunia mampu bertahan selama perang karena menggunakan cadangan minyak dalam jumlah bterbesar sepanjang sejarah. Akibatnya, cadangan yang selama ini menjadi bantalan menghadapi krisis pasokan kini menipis.

"Ini bukan berarti kita tidak bisa beroperasi tanpa cadangan tersebut. Namun, harga minyak ke depan bisa menjadi lebih rentan mengalami lonjakan," kata Bouchouev.

Berdasarkan perhitungan Reuters dengan asumsi permintaan minyak global sebesar 104 juta barel per hari, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$5 per barel akan menambah beban biaya sekitar US$190 miliar per tahun bagi perekonomian global.

Mengisi kembali cadangan minyak juga diperkirakan menjadi lebih mahal setelah perang.

Sebelum konflik, European Central Bank (ECB) memperkirakan harga minyak pada 2027–2028 berada di kisaran US$63–64 per barel. Namun, dalam laporan yang diterbitkan pada Juni, ECB merevisi proyeksi tersebut menjadi rata-rata US$65–75 per barel.

Pada harga Brent saat ini, biaya untuk mengisi kembali cadangan minyak yang telah digunakan diperkirakan melebihi US$70 miliar.

Kepala Riset MST Marquee Saul Kavonic mengingatkan pasar kemungkinan masih meremehkan risiko gangguan pasokan minyak berikutnya.

"Pasar kemungkinan masih meremehkan risiko gangguan arus minyak selanjutnya. Iran kemungkinan akan terus mencari alasan untuk menghambat arus pengiriman melalui Selat Hormuz," ujarnya. (ARF)