Maria Machado: Nicolas Maduro akan tinggalkan kekuasaan di Venezuela

Senin, 15 Desember 2025

image

JAKARTA - Maria Corina Machado, pemimpin oposisi Venezuela, menegaskan bahwa Presiden Nicolas Maduro akan meninggalkan kekuasaan, menurut laporan Al Jazeera (14/12).Penampilan publik keduanya setelah lebih dari setahun menghilang ini disertai janji bahwa transisi kepemimpinan di Venezuela akan terjadi, baik melalui negosiasi maupun tidak.Berbicara kepada wartawan di Oslo, Norwegia, pada Jumat, Machado menyatakan ia masih berharap perubahan kekuasaan berlangsung damai. “Saya fokus pada transisi yang tertib dan damai,” katanya, dikutip dari Al Jazeera (14/12).Pernyataan ini muncul saat Amerika Serikat meningkatkan kekuatan militernya di Karibia dan menargetkan kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, yang menurut para ahli bisa termasuk tindakan pembunuhan di luar hukum.Maduro menuduh pemerintahan Trump berusaha menjatuhkan pemerintahannya, sementara beberapa kritikus menilai AS ingin membuka cadangan minyak Venezuela yang luas bagi perusahaan Barat.Machado, yang tetap populer meski dilarang mengikuti pemilu presiden tahun lalu, dianggap sebagai kandidat favorit Washington untuk menggantikan Maduro.Oposisi menegaskan bahwa pengganti Machado, Edmond Gonzalez, memenangkan pemilu Juli dengan selisih besar, yang divalidasi oleh ahli independen. Sementara, dikutip dari Al Jazeera (14/12), Maduro tetap mengklaim kemenangan.Pada Kamis, Machado muncul di Oslo untuk menerima Penghargaan Nobel Perdamaian setelah berhasil menghindari larangan perjalanan di negaranya sendiri.Ia memuji langkah pemerintahan Trump dalam menekan Maduro, termasuk penyitaan tanker minyak yang terkena sanksi, dan menyebut tindakan itu “tegas” dalam melemahkan pemerintah Venezuela.Meski mendukung tekanan politik dan ekonomi, Machado berhati-hati soal intervensi militer. Ia menegaskan Venezuela “sudah diinvasi” dengan keberadaan agen Rusia, agen Iran, kelompok teroris Hezbollah dan Hamas, serta gerilya Kolombia dan kartel narkoba.Pada Jumat, Machado memprediksi angkatan bersenjata Venezuela akan mematuhi transisi kekuasaan saat dimulai. “Saya percaya mayoritas besar angkatan bersenjata dan polisi Venezuela, saat transisi dimulai, akan mematuhi perintah, pedoman, instruksi dari atasan yang ditunjuk oleh otoritas sipil yang sah dipilih oleh warga Venezuela,” katanya, dikutip dari Al Jazeera (14/12).Sementara itu, para ahli memperingatkan bahwa transisi harus dinegosiasikan dengan hati-hati dengan pejabat politik dan militer untuk mencegah konflik internal.Francesca Emanuele, rekan senior kebijakan Amerika Latin di Center for Economic and Policy Research (CEPR), mencatat ideologi Chavismo Maduro tetap menjadi kekuatan politik kuat di Venezuela, sementara sebagian oposisi menolak intervensi militer AS. Sistem korupsi dan patronase juga membuat banyak pejabat militer enggan berpihak.Di sisi lain, dikutip dari Al Jazeera (14/12), pemerintahan Trump sendiri menunjukkan sedikit indikasi akan mengurangi tekanan. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kemungkinan penyitaan kapal yang dikenai sanksi di lepas pantai Venezuela bisa terjadi lagi.Pada Jumat, Laksamana Alvin Holsey, pemimpin militer AS di Amerika Latin, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Sumber menyebut pengunduran itu merupakan hasil tekanan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, karena frustrasi atas respons Holsey terhadap strategi Pentagon yang semakin agresif.Hingga kini, pengganti permanen Holsey belum diumumkan. Namun, Letnan Jenderal Angkatan Udara, Evan Pettus sementara memimpin. (SA)