IHSG ambles 30% lebih, ini alasan JELI dan JECX tetap masuk bursa
Selasa, 07 Juli 2026
JAKARTA – Gelombang IPO di tengah tahun ini – yang diawali dengan sukses oleh PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) – berlangsung di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 30% sejak awal tahun.
Namun, keduanya berhasil menyentuh batas auto-reject atas (ARA) di hari pencatatan perdananya, melonjak masing-masing 25% dan 24,8% ke level Rp1.125 dan Rp1.560 per lembar hingga akhir perdagangan Selasa (7/7).
Terkait timing IPO, Dr. dr. Johan A. M. M. Hutauruk, Sp.M(K), Presiden Direktur JEC Group, mengakui bahwa Perseroan pertama merencanakan IPO JECX pada Desember. “Saat IHSG sedang baik-baiknya,” ujarnya.
Namun, si awal tahun 2026, konflik geopolitik dan kondisi domestik menghantam laju indeks acuan dalam negeri tersebut, dan membuat pasar modal relatif tak bergairah di sisa paruh pertama tahun ini.
Menurutnya, setelah semua persiapan dilakukan, Perseroan bahkan sempat menunda untuk melantai di bursa ketika IHSG tak kunjung menunjukkan pemulihan hingga Maret 2026.
“Bulan 3 makin turun, pasar saham makin turun, kita bilang, ‘Oke, kita tahan.’ Bulan 5, bulan 6, sudah 3 bulan, makin turun juga,” jelasnya dalam gelaran Konferensi Pers JECX, Selasa (7/7), di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada akhirnya, manajemen mempertimbangkan pendapat pihak underwriter, yang menyebutkan kemungkinan IHSG membaik saat pencatatan saham perdana.
Sebagai catatan, sejalan dengan debut kedua emiten baru ini, IHSG ditutup menguat hingga 1,19% ke level 5.986,50.
“Kita yang penting fundamentalnya bagus. Pasien bertambah, dokter-dokter tetap bekerja. Saham, ya, naik turun – biasanya naik lagi. Jadi atas dasar itu, kita tetap maju, dan berkat semua tim, IPO berjalan lancar,” tuturnya pada IDNFinancials di kesempatan yang sama.
Skenario serupa juga dialami produsen Inaco Jelly, JELI. Direktur JELI Adhi Siswaya Lukman mengungkap bahwa persiapan IPO Perseroan telah dimulai pada September 2025 lalu.
“Jadi kita persiapan mulai September tahun lalu, ya. Tiba-tiba ada [konflik] geopolitik eskalasi Iran, Amerika, Israel, Februari,” tuturnya lebih lanjut.
Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa manajemen masih memiliki keyakinan atas prospek industri dan bisnis secara jangka panjang, sehingga Perseroan melanjutkan rencana IPO tersebut.
“Dan puji Tuhan, Alhamdulillah, ternyata kita diberkatin. Pas kita book building, indeksnya naik. Pas kita pencatatan saham perdana, indeksnya naik lagi,” ujarnya.
Menurutnya, prospek industri makanan dan minuman masih positif, mengingat industri ini tumbuh lebih pesat dari pertumbuhan ekonomi secara general – mencapai 7,64% pada kuartal I 2026.
Namun, ia mengakui bahwa Perseroan akan terus mencermati dampak dari ketidakpastian kondisi global, terutama konflik geopolitik, serta kondisi daya beli masyarakat dalam negeri yang masih lemah.
“Tapi kita yakin orang tetap butuh makan dan minum,” ujarnya.
Seperti yang telah diberitakan IDNFinancials sebelumnya, produsen Inaco Jelly ini merencanakan peluncuran produk baru di September dan November 2026 mendatang.
Selain itu, JELI juga tengah mengincar ekspansi pasar ekspor, terutama India dan Filipina. Menurut Adhi, pasar ekspor JELI kini masih tersebar merata di Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika – meski porsinya masih kecil, hanya 2,13% dari total penjualan 2025. (ZH)