Surplus China tembus US$1 triliun, bagaimana tanggapan ekonom Amerika?
Senin, 15 Desember 2025

JAKARTA – Lonjakan ekspor China sepanjang 2025 yang menghasilkan surplus perdagangan lebih dari US$1 triliun menuai sorotan dari kalangan analis kebijakan ekonomi internasional.
Dalam sebuah analisis yang dimuat The National Interest pada Sabtu (13/12), ekonom Milton Ezrati menilai lonjakan ekspor tersebut tidak mencerminkan kekuatan struktural ekonomi China dalam jangka panjang, melainkan strategi jangka pendek Beijing dalam merespons meningkatnya hambatan perdagangan dari Amerika Serikat dan Eropa.
The National Interest merupakan publikasi daring yang memuat artikel, analisis, dan opini mengenai isu-isu kebijakan luar negeri, geopolitik, dan ekonomi internasional. Situs ini dikelola oleh Center for the National Interest (CFNI), sebuah lembaga pemikir kebijakan publik nirlaba berbasis di Washington, D.C., yang didirikan pada 1994 atas gagasan mantan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon.
Ezrati, yang dikenal sebagai ekonom dan analis pasar global, dan pernah menjadi Chief Economist di Lord Abbett, perusahaan investasi AS, menilai menyempitnya akses China ke pasar Amerika, selama ini pasar ekspor paling menguntungkan, mendorong Beijing mengalihkan ekspor ke kawasan lain, alih-alih memperkuat konsumsi domestik atau mendorong investasi sektor swasta. Strategi ini berhasil menopang kinerja perdagangan sepanjang 2025, namun dinilai menyimpan risiko jangka menengah.
Awalnya, Eropa menjadi tujuan utama pengalihan ekspor. Namun derasnya arus produk China justru memicu resistensi baru. Uni Eropa memperketat kebijakan perdagangan, termasuk pengenaan tarif terhadap kendaraan listrik asal China. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyebut lonjakan impor dari China sebagai ancaman terhadap model industri dan inovasi Eropa.
Dampak pembatasan perdagangan mulai terlihat. Impor Amerika Serikat dari China pada November 2025 tercatat sekitar 30% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, impor Eropa dari China pada Oktober tercatat 12% di bawah level Mei, menandai melemahnya daya serap kawasan tersebut.
Seiring tertutupnya pasar Barat, ekspor China kini semakin bergantung pada negara-negara global south. Negara-negara ASEAN menyerap sekitar 11% lebih banyak produk China dibanding tahun sebelumnya, sementara ekspor ke India melonjak hampir 30%. Pasar Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin juga mencatat peningkatan signifikan.
Namun menurut Ezrati, strategi ini tidak berkelanjutan. Skala ekonomi negara berkembang jauh lebih kecil dibandingkan Amerika Utara dan Eropa, sehingga tidak mampu menyerap kelebihan kapasitas industri China secara terus-menerus. Selain itu, semakin banyak negara mulai menerapkan pembatasan untuk melindungi industri domestik mereka.
Beberapa negara telah mengambil langkah konkret. Meksiko menaikkan tarif impor produk China, Indonesia membatasi penjualan langsung lintas platform, sementara India menyuarakan kekhawatiran atas defisit perdagangan yang mendekati US$100 miliar pada tahun fiskal berjalan.
Analisis tersebut menegaskan bahwa persoalan mendasar ekonomi China terletak pada ketergantungan terhadap pertumbuhan berbasis ekspor. Kapasitas produksi industri yang melampaui kebutuhan domestik membuat perekonomian China sangat rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan global.
Dana Moneter Internasional (IMF) telah lama mendorong Beijing untuk menyeimbangkan ekonomi melalui penguatan konsumsi domestik dan sektor swasta. Meski Presiden Xi Jinping menyatakan komitmen terhadap arah tersebut, Ezrati menilai implementasi kebijakan nyata masih terbatas. Dalam konteks ini, lonjakan ekspor China sepanjang 2025 dipandang lebih sebagai indikasi kelemahan struktural, ketimbang kekuatan ekonomi jangka panjang. (DH)