Utang pinjol melonjak jadi Rp92,9 triliun, pay later melambat

Senin, 15 Desember 2025

image

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan pertumbuhan kinerja industri pinjaman online (pinjol) sepanjang Oktober 2025.

Agusman, pejabat eksekutif di OJK, mengatakan outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp92,92 triliun sejak awal tahun hingga Oktober 2025, meningkat 23,86% secara tahunan. Peningkatan ini juga lebih tinggi dari outstanding tahun berjalan hingga September, yang mencapai 22,16%.

Namun di tengah lonjakan itu, OJK mencatat kualitas kredit pinjaman daring justru membaik. Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) turun pada Oktober, dari bulan sebelumnya sebesar 2,82%.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 2,76%,” ujar Agusman, dalam konferensi pers yang digelar pekan lalu.

Sementara itu, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan masih mencatatkan pertumbuhan, meski melambat dari bulan sebelumnya.

Pada Oktober 2025, pembiayaan BNPL tumbuh 69,71% secara tahunan menjadi Rp10,85 triliun. Pertumbuhan ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 88,65%.

Adapun rasio kredit bermasalah BNPL atau Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,79%.

Di sektor lain, pembiayaan modal ventura mengalami kontraksi tipis sebesar 0,10% secara tahunan dengan total pembiayaan Rp16,30 triliun.

Sebaliknya, industri pergadaian menunjukkan kinerja kuat dengan penyaluran pembiayaan tumbuh 38,89% secara tahunan menjadi Rp120,45 triliun.

Secara agregat, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh 0,68% secara tahunan pada Oktober 2025 menjadi Rp505,30 triliun.

“Didukung pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 9,28% secara tahunan,” ujar Agusman. (DH/KR)