Harga minyak naik hampir 2%, serangan AS ke Iran picu kekhawatiran
Rabu, 08 Juli 2026
SINGAPURA — Harga minyak dunia melonjak hampir 2% pada perdagangan Rabu setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran dan kembali memberlakukan sanksi penjualan minyak mentah negara tersebut.
Seperti dikutip Reuters, langkah itu memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata kedua negara mulai runtuh dan berpotensi mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent naik US$1,38 atau 1,9% menjadi US$75,54 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,37 atau 1,9% ke US$71,81 per barel pada pukul 01.28 GMT.
Kenaikan harga terjadi setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) menyatakan serangan udara tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Sebelumnya, pada Selasa, harga minyak juga telah melonjak sekitar 3% setelah Washington mencabut lisensi umum yang mengizinkan penjualan minyak mentah Iran.
Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic, mengatakan eskalasi terbaru mengingatkan pasar bahwa keamanan pelayaran di Selat Hormuz masih sangat rapuh.
Menurutnya, apabila ketegangan terus berlanjut dan lalu lintas kapal di jalur tersebut tetap berada di bawah 50% dari tingkat sebelum perang, gangguan pasokan dapat menopang harga minyak lebih tinggi.
Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian gencatan senjata bulan lalu, harga minyak sempat turun kembali ke level sebelum perang karena pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak Timur Tengah akan kembali membanjiri pasar.
Namun, serangan terbaru terhadap kapal tanker kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global.
Sementara itu, Qatar menuding Iran berada di balik serangan terhadap kapal pengangkut LNG miliknya, sedangkan sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi juga dilaporkan mengalami kerusakan di lepas pantai Oman.
Di sisi lain, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat kembali turun pada pekan lalu, memperkuat sentimen kenaikan harga minyak. (DK)