IHSG anjlok, Allan Gray mulai berburu saham Indonesia

Rabu, 08 Juli 2026

image

HARARE – Gelombang aksi jual (sell-off) aset Indonesia yang semakin tajam sepanjang 2026, termasuk saat perang Iran memicu gejolak pasar global, justru dimanfaatkan manajer investasi asal Afrika Selatan, Allan Gray, untuk mulai berinvestasi di Tanah Air.

Perusahaan pengelola aset senilai US$29 miliar yang berbasis di Cape Town itu menilai volatilitas pasar saat ini menciptakan peluang investasi menarik bagi investor jangka panjang yang berfokus pada valuasi.

Dikutip dari The Business Times Singapura, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang 2026.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG telah turun lebih dari 35% dalam denominasi dolar AS sepanjang 2026. Kinerja tersebut menjadikannya sebagai indeks saham dengan performa terburuk di antara 92 indeks saham yang dipantau Bloomberg.

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia terutama dipicu peringatan MSCI pada Januari lalu mengenai potensi penurunan status Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier. Penilaian tersebut didasarkan pada terbatasnya jumlah saham yang memenuhi kriteria investabilitas bagi investor global.

Sejak peringatan itu diterbitkan, pemerintah telah memperkenalkan sejumlah reformasi pasar yang akan ditinjau kembali oleh MSCI pada November mendatang.

Namun, sentimen investor kembali memburuk pada Rabu (8/7) setelah S&P Dow Jones Indices mengisyaratkan Indonesia berpotensi kehilangan status pasar berkembang apabila berbagai persoalan di pasar saham domestik tidak kunjung membaik. Di tengah pelemahan bursa regional, IHSG ditutup melemah 1,3%.

Selain itu, investor juga mencermati berbagai faktor lain, mulai dari kebijakan fiskal, tata kelola pemerintahan, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kepastian arah kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, Allan Gray justru melihat peluang investasi.

Portfolio Manager Allan Gray, Rory Kutisker-Jacobson, mengatakan periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor seperti saat ini merupakan momentum yang menarik bagi investor yang sabar dan berorientasi pada valuasi.

"Periode volatilitas tinggi dan ketidakpastian investor seperti ini menjadi lahan yang sangat menarik bagi investor yang terbiasa di pasar frontier yang sabar dan berfokus pada valuasi," tulis Kutisker-Jacobson dalam laporannya.

Menurutnya, ketika suatu pasar kurang mendapat perhatian investor global, valuasi saham dapat menjadi tidak efisien sehingga menciptakan peluang investasi yang menarik. Kondisi seperti itu kini dinilainya mulai terlihat di Indonesia.

Menurutnya, pasar frontier kerap diabaikan atau kurang mendapat perhatian dari investor global sehingga menciptakan inefisiensi harga yang pada akhirnya membuka peluang investasi yang menarik.

Sebagai langkah awal, Allan Gray melakukan investasi pertamanya di Indonesia pada Juni 2026 dengan membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk, salah satu produsen mi instan terbesar di dunia.

Kutisker-Jacobson mengatakan perusahaannya kini juga meningkatkan fokus terhadap Indonesia dengan menyusun sejumlah laporan riset internal untuk mengidentifikasi peluang investasi lainnya.

Menurut perhitungan Allan Gray, saham Indofood diperdagangkan pada valuasi sekitar lima kali laba perusahaan (price-to-earnings ratio/PER). Valuasi tersebut dinilai menarik mengingat Indofood memiliki posisi pasar yang dominan, menghasilkan arus kas yang kuat, serta memiliki bisnis yang berorientasi pada konsumen.

Hingga pertengahan 2026, Allan Gray Frontier Markets Equity Fund yang turut dikelola Kutisker-Jacobson membukukan imbal hasil hampir 9%.

Selain mulai berinvestasi di Indonesia, dana tersebut juga membuka posisi kecil di Meksiko, Polandia, dan Turki. Di sisi lain, Allan Gray mengurangi kepemilikannya di perusahaan energi Nigeria, Seplat Energy, yang sebelumnya mencatatkan kinerja kuat seiring tingginya harga minyak.

Harga minyak mentah Brent sendiri mulai melemah setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Juni lalu. Meredanya ketegangan tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia.

Berbasis Value Investing

Allan Gray merupakan perusahaan manajer investasi independen yang didirikan pada 1973 oleh Allan William Gray dan berkantor pusat di Cape Town, Afrika Selatan.

Perusahaan ini mengelola aset senilai sekitar US$29 miliar dan dikenal menerapkan strategi investasi jangka panjang berbasis value investing, yakni mencari perusahaan yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya untuk memperoleh imbal hasil dalam jangka panjang.

Melalui Allan Gray Frontier Markets Equity Fund, perusahaan berinvestasi di berbagai negara berkembang dan pasar frontier dengan fokus pada saham-saham yang dinilai memiliki valuasi menarik namun kurang mendapat perhatian investor global.

Selain Indonesia, portofolio dana tersebut mencakup sejumlah negara di Afrika, Amerika Latin, Eropa Timur, dan Asia, dengan pendekatan investasi yang menekankan analisis fundamental serta disiplin dalam memilih perusahaan berkualitas. (ARF)