Sentimen global dan teknikal menekan IHSG, pasar menanti arah BI Rate
Senin, 17 November 2025

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan ini, setelah terkoreksi 0,20% menjadi 8.370,44 pada pekan lalu.
Analis Phintraco Sekuritas menilai saat ini pelaku pasar mencermati tekanan eksternal dari bursa saham global, serta arah kebijakan Bank Indonesia (BI) berikutnya.
Mayoritas indeks di bursa Wall Street melemah pada perdagangan Jumat lalu. Dow Jones Industrial turun 0,65%, S&P 500 turun 0,05%, dan Nasdaq Composite menguat 0,13%.
"Kekhawatiran bahwa The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Desember mendatang, semakin menambah tekanan bagi bursa Wall Street," kata analis Phintraco, dalam riset yang disampaikan hari ini.
Dari dalam negeri, analis menyebut investor akan menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur BI pada 19 November, serta rilis data pertumbuhan kredit dan jumlah uang beredar pada pekan ini.
Sementara secara teknikal, histogram MACD masih berada di area positif namun momentum kenaikan melambat. Indikator ini dinilai akan membentuk death cross, didukungStochastic RSI yang berada di area overbought.
“Dalam jangka pendek, IHSG masih berpotensi melemah menguji level 8.300-8.325. Namun dalam jangka menengah panjang, IHSG masih dalam kondusi bullish,” ungkap analis Phintraco.
Di sisi lain, riset analis CGS International Sekuritas Indonesia menilai pelemahan indeks di Wall Street dana harga emas menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.
Namun kenaikan harga minyak mentah dan batu bara, berpeluang jadi penopang untuk saham-saham di sektor energi.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 8.320/8.270 dan resist 8.420/8.470,” jelas analis CGS International. (KR)