Tunggu putusan MSCI, CEO Sucor Sekuritas pangkas target IHSG ke 8.000
Jumat, 10 Juli 2026
JAKARTA – CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengaku memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk tahun 2026 akibat ketidakpastian nasib pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Namun, usai pemangkasan proyeksi itu pun, ia masih menargetkan IHSG bisa menutup tahun 2026 di level 8.000. Sebagai perbandingan, IHSG masih ditutup di level 5.912,44 pada akhir perdagangan Kamis (9/7).
“Kalau IHSG, saya agak menurunkan target. Target saya tadinya 10.000, sekarang 8.000 – 8.000 sudah bagus banget,” ujarnya saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Kamis (9/7).
Ia menyebutkan salah satu faktornya adalah ketidakpastian keputusan evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia.
Seperti yang pernah diberitakan IDNFinancials, MSCI mempertahankan status Indonesia di kategori Emerging Market dalam Tinjauan Klasifikasi Pasar 2026 akhir Juni lalu.
Namun, MSCI juga masih membuka peluang konsultasi penurunan status Indonesia ke kelas Frontier Market, apabila reformasi yang tengah dijalankan tidak menunjukkan kemajuan signifikan hingga akhir tahun.
“Kalau itu belum beres, kita nggak bisa tembus diatas 8.000, karena asing juga takut kalau tiba-tiba kita harus turun [kelas],” imbuh Bernad lebih lanjut.
Namun, Iran-AS yang kembali memanas, kemudian peringatan dari S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) untuk pasar saham Indonesia, hingga rating dan outlook negara oleh lembaga pemeringkat internasional juga disebut turut menekan laju indeks saham acuan dan inflow asing.
Ia juga menyebut bahwa asing kini cenderung bersikap wait-and-see, yang berimbas kepada tipisnya perdagangan asing dalam beberapa minggu terakhir.
Di sisi lain, sepinya perdagangan investor domestik, menurut Bernad, disebabkan oleh dana yang terserap di gelombang IPO enam emiten di awal Juli 2026 ini.
“Karena kalau kita lihat, kontribusi lokal terhadap transaksi di IHSG itu, kisarannya itu dikisaran 70-75%. Kurang lebih 55-60% itu retail, kemudian 10-15% itu institusi lokal. Sisanya asing, kisaran 20-25%. Jadi, kalau lokal lagi lari ke IPO, pasti transaksi sepi,” jelasnya.
Menurutnya, ketika gelombang IPO ini selesai, dan para penyedia indeks global serta lembaga rating kredit memberikan putusan yang baik dan tidak menurunkan “kelas” atau peringkat Indonesia, indeks dapat kembali naik, menuai sentimen dan katalis positif.
“Kalau itu nggak di-downgrade, tetap ratingnya sama, ini menjadi katalis positif, dan [IHSG] bisa tembus 6.000. Tinggal nanti overhang terakhir, di bulan November, terkait MSCI,” pungkas Bernad.
Ia menyebutkan bahwa support IHSG kini berada di level 5.845, dengan resistance di 5.969, yang jika tertembus, berpotensi membawa IHSG kembali ke level 6.000. (ZH)