Outflow sepekan Rp1,74 triliun, asing ramai tinggalkan MAPI

Sabtu, 11 Juli 2026

image

JAKARTA – PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatat nilai jual bersih (net sell) asing paling tinggi hingga Rp699,5 miliar – atau sekitar 40% dari total net sell di pasar modal Indonesia dalam sepekan terakhir (6-10/7).

Selain saham MAP Group tersebut, tiga saham BUMN juga tampak banyak dibuang asing, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Berikutnya, beberapa saham tambang mineral juga dilepas asing dengan nilai net sell di atas Rp50 miliar, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) hingga PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Selain itu, terdapat pula saham-saham holding konglomerasi, seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Berikut adalah top 10 net sell di pasar reguler pekan ini (6-10/7):

Emiten

Net sell value

Net sell volume (lot)

MAPI

Rp699,5 miliar

4,6 juta

BBRI

Rp327,1 miliar

1,2 juta

ASII

Rp145,5 miliar

301,7 ribu

BMRI

Rp114,7 miliar

290,2 ribu

TLKM

Rp109,9 miliar

452,2 ribu

AMMN

Rp104,8 miliar

305,1 ribu

MDKA

Rp80,5 miliar

306,7 ribu

DSSA

Rp77,6 miliar

962,4 ribu

BRMS

Rp69,6 miliar

1,4 juta

NCKL

Rp61,3 miliar

751,3 ribu

Sebagai catatan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan net sell sebesar Rp1,74 triliun pada pekan ini, membaik dari Rp2,73 triliun pada pekan lalu (29 Juni – 3 Juli).

Namun, transaksi asing menipis, dengan foreign buy Rp18,46 triliun dan foreign sell Rp20,20 triliun. Sebagai perbandingan, pekan lalu, asing mencatatkan total nilai beli hingga Rp21,94 triliun dan nilai jual Rp24,68 triliun.

CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menyebutkan bahwa asing kini cenderung bersikap wait-and-see, mengingat bahwa keputusan klasifikasi dan inclusion MSCI terhadap pasar dan saham Indonesia baru akan dirilis November mendatang.

Pasalnya, MSCI masih membuka peluang konsultasi penurunan status Indonesia ke kelas Frontier Market, apabila reformasi yang pasar modal tidak menunjukkan kemajuan signifikan hingga akhir tahun.

“Kalau itu belum beres, [IHSG] kita nggak bisa tembus diatas 8.000, karena asing juga takut kalau tiba-tiba kita harus turun [kelas],” katanya di Jakarta, Kamis (9/7).

Di sisi lain, IHSG sendiri ditutup menguat tipis 0,83% pekan ini ke level 5.924,36. (ZH)