DSSA ungkap tujuan ambil alih entitas pengendali EXCL
Sabtu, 11 Juli 2026
JAKARTA – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengungkap tujuan pengambilalihan 100% PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) dari dua pihak afiliasinya, PT Infinity Investama (IFI) dan PT Prima Mas Abadi (PMA), pada 29 Juni 2026 lalu.
Dalam suratnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen DSSA mengaku bahwa investasi pada BMT dilakukan untuk memanfaatkan kepemilikan saham BMT di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
BMT mulai masuk menjadi pemegang saham pengendali EXCL pascamerger XL Axiata dengan entitas Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) atau Smartfren pada April 2025 lalu. Hingga akhir Juni 2026, BMT masih menguasai 24,59% saham EXCL.
Menurut Perseroan, aksi merger dan pembentukan XLSMART dinilai telah melahirkan entitas telekomunikasi berskala masif, dengan fundamental bisnis dan posisi kompetitif yang lebih kuat.
Hal ini diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan nilai investasi Perseroan secara berkelanjutan.
“Perseroan meyakini bahwa investasi pada BMT dapat memberikan kontribusi positif terhadap nilai investasi dan potensi penerimaan dividen bagi Perseroan,” jelas manajemen lebih lanjut.
Sebagai catatan, DSSA menanamkan investasi di BMT melalui dua anak usahanya, PT DSST Mas Gemilang dan PT Sinarmas Sukses Sejahtera, dengan nilai Rp4 triliun.
Tak lama berselang, DSSA melalui DSST menyuntik modal BMT melalui penerbitan dan pengambilan bagian saham senilai Rp8,54 triliun pada 6 Juli 2026.
Dalam keterangan resminya, Perseroan mengaku bahwa investasi besar-besaran ini merupakan bagian dari langkah strategis memperkuat kapabilitas operasional dan teknologi, serta mengakselerasi integrasi ekosistem digital demi pertumbuhan jangka panjang.
Sebagai catatan, DSSA sendiri merupakan entitas holding Grup Sinarmas, dengan entitas anak yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari penyedia jaringan internet melalui PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), data center melalui SMPlus, tambang batu bara melalui PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), hingga tenaga panas bumi.
Usai akuisisi BMT dan penyuntikan modal ini, kinerja keuangan BMT juga akan dikonsolidasikan ke laporan keuangan DSSA.
Hingga akhir kuartal I 2026, laba bersih Perseroan tercatat tumbuh 2,2% secara tahunan menjadi US$82,26 juta, meski pendapatannya merosot 6% menjadi US$693,24 juta.
Lini bisnis tambang batu bara, melalui GEMS, masih menopang sekitar 86,72% pendapatan per Maret 2026, disusul penyediaan TV kabel, internet dan teknologi sebesar 9,98%. (ZH)