Penyitaan tanker Venezuela dorong harga minyak naik
Senin, 15 Desember 2025

JAKARTA - Harga minyak mentah dunia bergerak naik pada perdagangan Senin, didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan akibat memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Sentimen geopolitik ini untuk sementara berhasil menutupi bayang-bayang kelebihan pasokan (oversupply) global yang diprediksi akan melebar pada tahun-tahun mendatang.
Seperti dilansir dari reuters.com (15/12), harga minyak mentah berjangka Brent naik 30 sen atau 0,49 persen menjadi US$ 61,42 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 28 sen atau 0,49 persen ke level US$ 57,72 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah kedua kontrak acuan tersebut anjlok lebih dari 4 persen pada pekan sebelumnya.
Gangguan pasokan menjadi fokus utama setelah ekspor minyak Venezuela dilaporkan jatuh tajam pasca penyitaan tanker oleh AS minggu lalu. Washington juga berencana mencegat lebih banyak kapal pembawa minyak Venezuela, meningkatkan tekanan pada pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Namun, analis senior NLI Research Institute, Tsuyoshi Ueno, memperingatkan bahwa tanpa eskalasi risiko geopolitik yang tajam, WTI bisa jatuh di bawah US$ 55 awal tahun depan.
Sentimen bearish ini didukung oleh catatan JPMorgan Commodities Research, yang memproyeksikan surplus minyak akan melebar pada 2026 dan 2027, di mana pasokan global tumbuh tiga kali lebih cepat daripada permintaan.
Di sisi lain, pasar juga memantau negosiasi damai Rusia-Ukraina di Berlin. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menawarkan untuk membatalkan aspirasi masuk NATO dalam pembicaraan lima jam dengan utusan AS, Steve Witkoff.
Meski demikian, konflik fisik tetap panas setelah Ukraina menyerang kilang minyak Rusia di Yaroslavl, yang berkontribusi pada proyeksi jatuhnya pendapatan migas Rusia bulan Desember menjadi 410 miliar Rubel (US$ 5,12 miliar). (SF)