Saat saham AI meroket, Masayoshi Son kurangi jaminan saham Softbank

Selasa, 16 Desember 2025

image

JAKARTA – Masayoshi Son mulai melonggarkan ketergantungan pada pinjaman berbasis saham dengan memanfaatkan reli kenaikan saham SoftBank Group yang dipicu euforia kecerdasan buatan (AI), di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gelembung sektor teknologi.

Pendiri dan CEO SoftBank tersebut memangkas nilai saham yang dijaminkan ke perbankan hingga sekitar US$2,1 miliar dalam beberapa bulan terakhir.

Dikutip dari straitstimes.com (14/12), berdasarkan dokumen perusahaan awal Desember, Son mengurangi jumlah saham yang dijadikan agunan sebanyak 19,4 juta lembar, sehingga total saham yang dijaminkan turun menjadi sekitar 154,2 juta saham.

Dengan langkah ini, porsi saham SoftBank milik Son yang dijadikan jaminan menyusut menjadi sekitar 31 persen, jauh lebih rendah dibanding hampir 39 persen pada Maret 2020.

Kekayaan Son yang diperkirakan mencapai US$35,3 miliar sebagian besar bersumber dari kepemilikan lebih dari sepertiga saham SoftBank. Konglomerasi tersebut menaungi portofolio global, mulai dari produsen chip hingga perusahaan rintisan teknologi.

Reli kenaikan saham SoftBank sepanjang tahun ini menjadi faktor utama perubahan tersebut. Harga saham melonjak hampir 200 persen dan mencapai puncak pada akhir Oktober, seiring maraknya investasi berbasis AI yang oleh sebagian pelaku pasar mulai dinilai berisiko membentuk gelembung.

Meski belakangan terkoreksi akibat kekhawatiran tersebut, saham SoftBank masih berada di jalur kenaikan tahunan tertinggi sejak 2013.

“Ketika saham SoftBank diperdagangkan di kisaran 25.000 yen per saham pada Oktober, Son kemungkinan memanfaatkan momentum tersebut untuk melepaskan sebagian saham dari jaminan,” kata pakar strategi pasar Asymmetric Advisors, Amir Anvarzadeh.

Namun, ia menambahkan, “Sejak itu, saham berada di bawah tekanan yang cukup besar.”

Selain mengurangi agunan, Son juga mengalihkan kepemilikan saham melalui struktur baru. Sebuah perusahaan investasi berbasis di Singapura yang dikendalikannya kini memegang saham SoftBank senilai sekitar US$1,1 miliar, berbeda dari pola sebelumnya yang menggunakan entitas di Jepang.

Son dikenal aktif menggunakan saham SoftBank sebagai jaminan pinjaman dari sejumlah lembaga keuangan, termasuk Mizuho Financial Group, Deutsche Bank, dan Julius Baer Group. Ia juga kerap memindahkan kepemilikan saham antar entitas di bawah kendalinya.

Ekspansi agresif ke sektor AI turut memengaruhi dinamika kekayaannya. Son sempat berinvestasi besar di perusahaan perangkat keras AI seperti Nvidia, yang kemudian dilepas, serta Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC). Investasi tersebut sempat mengantarkannya menjadi orang terkaya di Jepang pada awal 2025.

Dokumen tertanggal 5 Desember juga mengungkap bahwa SAM Wealth Management, perusahaan investasi Singapura milik Son, meminjam 10 juta saham SoftBank senilai sekitar US$1,1 miliar dari entitas induk di Jepang. Meski tujuan transaksi tidak diungkapkan, langkah ini kembali menyoroti kompleksitas struktur kepemilikan dan pendanaan yang menopang kerajaan bisnis Son.

“Dengan kenaikan saham SoftBank yang sangat signifikan tahun ini, ada peluang bagi Son untuk menegosiasikan ulang persyaratan jaminan dengan bank-bank lain atas pinjaman yang telah diambilnya,” kata analis Bloomberg Intelligence, Kirk Boodry.