Alasan CEO Microsoft AI tolak perang gaji tinggi ala Meta
Selasa, 16 Desember 2025
JAKARTA - Persaingan talenta kecerdasan buatan (AI) di Silicon Valley kian memanas, namun Microsoft menegaskan tidak akan ikut berlomba menawarkan paket gaji tinggi, seperti yang dilakukan sejumlah raksasa teknologi.
CEO Microsoft AI, Mustafa Suleyman, menyatakan perusahaannya tidak berniat menyaingi Meta yang menawarkan paket gaji jumbo untuk merekrut talenta AI, seperti dikutip businessinsider.com.
Sementara dalam wawancara di Bloomberg Podcasts, Suleyman menyoroti besarnya insentif yang ditawarkan Meta kepada insinyur dan peneliti AI.
“Saya rasa tidak ada yang bisa menandingi hal-hal itu,” ujar Suleyman, merujuk pada bonus penandatanganan hingga US$100 juta dan paket kompensasi senilai US$250 juta.
Suleyman mengkritik strategi Meta yang berada adi bawah pimpinan Mark Zuckerberg. “Saya rasa Zuck mengambil pendekatan tertentu yang melibatkan perekrutan banyak individu daripada mungkin membentuk tim, dan saya rasa itu bukan pendekatan yang tepat,” katanya.
Menurut Suleyman, pendekatan Microsoft lebih menekankan selektivitas dan kesesuaian budaya tim. Ia menuturkan pengalamannya di DeepMind yang sangat ketat dalam proses perekrutan. Di Microsoft, perekrutan berlangsung secara bertahap dan kandidat yang tidak sesuai dengan budaya dan kebutuhan tim, kata dia, tidak akan dipertahankan.
Di tengah perang talenta AI, kompensasi yang ditawarkan oleh industri ini melonjak tajam.
Meta menggelontorkan US$14,3 miliar untuk investasi di Scale AI, yang dinilai sebagai upaya merekrut Alexandr Wang. Google juga melakukan langkah serupa dalam merekrut pimpinan platform AI Windsurf, senilai US$2,4 miliar.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman mengungkap Meta sempat mencoba merekrut karyawannya, dengan tawaran bonus US$100 juta. Namun klaim ini disangkal oleh CTO Meta, Andrew Bosworth.
Bahkan di perusahaan rintisan, posisi kepemimpinan AI kini dapat memperoleh gaji pokok sekitar US$300.000–US$400.000, menurut firma perekrut tenaga eksekutif True Search.
Suleyman menyebut perputaran talenta sebagai hal wajar di industri dengan pasokan SDM yang terbatas. Ia mencontohkan kepindahan Amar Subramanya, wakil presiden korporat AI Microsoft, ke Apple.
Di sisi lain, Microsoft juga merekrut sejumlah talenta baru dari DeepMind dan OpenAI.
“Tentu saja tidak ada perjanjian 'tidak boleh membajak', itu tidak akan legal," ujar Suleyman. "Orang-orang bisa bekerja untuk siapa pun yang mereka inginkan." (DH/KR)