Industri halal Malaysia sumbang kontribusi 8,1% ke PDB

Selasa, 16 Desember 2025

image

JAKARTA - Profesor Institute of Islamic Banking and Finance (IIiBF), International Islamic University Malaysia (IIUM), Salina Kasim, menyatakan industri halal Malaysia diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama ekonomi nasional pada 2030.Menurut Salina, pada akhir periode rencana 2030, nilai industri halal Malaysia diperkirakan mencapai sekitar US$113,2 juta dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 8,1%.

Angka tersebut jauh melampaui sektor tradisional seperti pertanian yang saat ini hanya menyumbang sekitar 4–5% terhadap ekonomi Malaysia, di sampaikan dalam sebuah seminar kolaburasi antara Menara Syariah & International Islamic University Malaysia dengan tema Bilateral and Regional Islamic Social Finance Integration For Halal Community Engagement, yang di support juga oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) & Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) di Menara Syariah, PIK2, Banten, Selasa (16/12).

Ia menjelaskan, pertumbuhan industri halal tidak hanya terlihat dari sisi output, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai nilai ekonomi. Faktor utama pendorongnya adalah peningkatan populasi Muslim global yang dibarengi dengan naiknya tingkat pendidikan dan pendapatan, sehingga memperkuat daya beli masyarakat.“Ketika pendapatan dan standar hidup meningkat, permintaan terhadap produk halal, mulai dari makanan, farmasi, hingga kosmetik, akan terus bertambah,” ujar Salina.Selain faktor demografis, Salina menyoroti meningkatnya minat konsumen non-Muslim terhadap produk halal. Ia mengutip estimasi terbaru di Inggris yang menunjukkan sekitar 70% masyarakat lebih memilih daging halal dibandingkan produk konvensional, terutama karena alasan etika, kesehatan, dan kualitas.Lebih lanjut, Salina menekankan peran strategis keuangan Islam dalam mendorong pertumbuhan industri halal. Integrasi antara pembiayaan syariah dan sektor halal dinilai mampu menciptakan ekosistem yang lebih kuat, mulai dari produksi, logistik, hingga distribusi.“Jika kita ingin konsumsi halal, maka pembiayaannya juga harus halal. Inilah yang akan mendorong industri halal bergerak ke level yang lebih tinggi,” jelasnya.Ia menambahkan, penguatan ekosistem halal membutuhkan dukungan pembiayaan syariah, termasuk melalui perbankan Islam, pasar modal, fintech syariah, serta keuangan sosial Islam.

Dengan dukungan tersebut, industri halal diyakini mampu tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan, sekaligus menjadi motor pertumbuhan ekonomi Malaysia di masa depan. (DK)