Okupansi hotel hanya 50%, BUVA harapkan kolaborasi dengan Pemda Bali
Selasa, 16 Desember 2025

JAKARTA – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mencatatkan tingkat okupansi Hotel Alila Manggis mencapai 50,4% pada akhir kuartal tiga 2025, dengan kontribusi 8,65% terhadap pendapatan Perseroan hingga akhir September 2025.
Tingkat okupansi tersebut jauh tertinggal dari tingkat okupansi Hotel Alila Villas Uluwatu (60,27%) dan Alila Ubud (75,03%), padahal rata-rata harga kamarnya paling rendah di kisaran Rp1,85 juta per malam.
Manajemen memandang hal ini disebabkan oleh tren wisatawan dan pasar pariwisata yang kini lebih berfokus pada akomodasi eco-luxury.
Selain itu, lokasi Alila Manggis yang berada di Bali Timur memiliki akses yang jauh dari perkotaan maupun Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, sehingga memiliki daya tarik wisatawan yang lebih rendah.
“Kami berharap bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak berwenang untuk meningkatkan aksesibilitas ke Bali Timur,” ujar manajemen dalam Paparan Publik Tahunan BUVA, Selasa (16/12).
Manajemen meyakini bahwa kerja sama untuk meningkatkan infrastruktur dan akses tersebut dapat mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan dan daya tarik kawasan, yang lantas mendorong tingkat okupansi Alila Manggis.
Di sisi lain, BUVA menyatakan juga akan terus mengembangkan lahan yang dimiliki, terutama di daerah Uluwatu, untuk menambah portofolio perhotelan kelas premium pada tahun 2026 mendatang.
Sebagai catatan, BUVA memang baru saja mengalokasikan dana hasil rights issue Rp603,99 miliar untuk mengakuisisi PT Bukit Permai Properti milik Grup Summarecon, yang memiliki 19 hektar lahan yang berada dekat Alila Villas Uluwatu milik Perseroan.
“Pengambilalihan Bukit Permai dipandang memberikan potensi sinergi yang signifikan, baik dari sisi operasional, pemasaran, maupun pengelolaan aset, serta memperluas landbank Perseroan di kawasan premium Bali,” jelas manajemen lebih lanjut.
Alila Villas Uluwatu tercatat memberikan kontribusi pendapatan paling tinggi untuk Perseroan, mencapai 64,81% dari total pendapatan BUVA hingga akhir kuartal tiga 2025 — atau sebesar Rp187,14 miliar.
Harga rata-rata kamar per malam pun paling tinggi, mencapai Rp11,08 juta per malam. Namun, manajemen mengaku bahwa penyesuaian harga akomodasi luxury tersebut dapat membantu mengimbangi penurunan tingkat okupansi.
Ke depannya, manajemen juga mempertimbangkan untuk memperluas portofolio premium hospitality services miliknya melalui cara organik maupun inorganik.
Selain itu, mengikuti tren akomodasi yang semakin bergeser ke arah eco-luxury, BUVA juga berkomitmen mempertahankan sertifikasi lingkungan, demi keberlanjutan dan inisiatif ESG (Environmental, Social, Governance). (ZH)