Harga minyak anjlok 3%, isyarat damai Ukraina picu banjir pasokan

Rabu, 17 Desember 2025

image

JAKARTA - Harga minyak mentah global ditutup pada level terendah dalam hampir lima tahun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal kemajuan dalam perundingan damai Rusia–Ukraina, yang memicu ekspektasi tambahan pasokan minyak di pasar global yang tengah kelebihan suplai.

Dikutip financialtimes, minyak mentah Brent ditutup turun hampir 3% ke level US$58,92 per barel, terendah sejak Februari 2021. Sementara minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melemah sekitar 2,7% ke US$55,27 per barel, juga berada di posisi terendah sejak awal 2021.

Trump menyatakan pada Senin bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang Ukraina kini “lebih dekat daripada sebelumnya”, meskipun pejabat Eropa menilai sejumlah isu krusial, termasuk wilayah, masih belum terselesaikan.

Analis menilai potensi perdamaian dapat berdampak signifikan terhadap pasar minyak dalam jangka pendek, terutama melalui pelonggaran hambatan logistik akibat sanksi terhadap ekspor Rusia.

“Ada sejumlah besar minyak yang terkunci dalam rantai pasok yang memanjang,” kata Martijn Rats, analis komoditas global Morgan Stanley.

Ia menilai kembalinya pola perdagangan normal bisa menyerupai pelepasan cadangan besar ke pasar. “Jika kita bisa kembali ke pola perdagangan historis, ini hampir seperti pelepasan persediaan,” ujarnya.

Meski demikian, Rats mengingatkan pasar berpotensi terlalu cepat bereaksi. “Kami pernah melihat situasi seperti ini beberapa kali sebelumnya dan ternyata masih terlalu dini.”

Konsultan Energy Aspects menilai peluang kesepakatan damai cepat masih kecil, namun menyebut perundingan terbaru sebagai faktor geopolitik paling tidak pasti bagi pasar minyak, terutama pada periode akhir tahun saat volume perdagangan cenderung menipis.

Jorge Leon dari Rystad mengatakan gencatan senjata Rusia–Ukraina berpotensi membuat sanksi AS dicabut lebih cepat dibanding Eropa, sekaligus menghentikan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia.

“Hal ini akan secara signifikan mengurangi risiko gangguan pasokan minyak Rusia dalam waktu dekat dan memungkinkan volume besar minyak Rusia yang saat ini disimpan di laut diperkirakan hampir 170 juta barel kembali ke pasar,” ujarnya.

Tekanan harga minyak juga dipengaruhi tren penurunan berkepanjangan. Harga Brent telah turun lima bulan berturut-turut, terpanjang dalam 11 tahun, dan merosot hampir US$20 per barel sepanjang tahun ini akibat lonjakan produksi global.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat produksi global naik sekitar 3 juta barel per hari pada 2025, didorong oleh negara OPEC dan non-OPEC. Meski sebagian pasokan tertahan oleh sanksi Rusia dan Venezuela, IEA tetap memproyeksikan surplus rata-rata 3,7 juta barel per hari pada 2026, melebihi kelebihan pasokan yang terjadi saat pandemi.(DH)