Tak lagi merugi, dividen Superbank bisa capai 85% laba bersih?
Rabu, 17 Desember 2025

JAKARTA – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), lengan bank digital Grup Emtek, kini resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan menjadi IPO lighthouse terakhir yang menutup tahun 2025 dengan nilai IPO jumbo sebesar Rp2,80 triliun.
Dalam prospektus IPO Superbank, manajemen Perseroan pun mengungkapkan komitmennya membagikan dividen dari laba bersih tahun berjalannya pasca-IPO.
“Setelah Penawaran Umum Perdana Saham dan setelah Perseroan membukukan saldo laba positif, manajemen Perseroan berkomitmen untuk membagikan dividen kepada seluruh Pemegang Saham Perseroan sebanyak-banyaknya sebesar 85% dari laba bersih tahun berjalan,” ujar manajemen, dikutip dari prospektus.
Namun, alokasi dividen diproyeksikan baru akan dibayarkan pada akhir tahun buku 2029, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kinerja keuangan, rasio kecukupan modal, serta rencana pengembangan bank.
Sebagai catatan, SUPA memang akan mengalokasikan 70% dari dana hasil IPO, atau Rp1,96 triliun, untuk memperkuat penyaluran kredit, sedangkan 30% sisanya akan digunakan sebagai belanja modal.
Menurut prospektus IPO Perseroan, belanja modal tersebut akan diserap secara bertahap dalam 5 tahun ke depan, mulai tahun 2026, untuk pengembangan produk, yang berfokus pada solusi digital bagi nasabah ritel dan pelaku UMKM.
“Didukung oleh pengembangan teknologi informasi (IT) yang saling melengkapi, melalui investasi pada infrastruktur, sistem operasional, kecerdasan buatan (AI) & data analytics, serta peningkatan cybersecurity,” tambah manajemen.
Sebagai gambaran, belanja modal Superbank pada tahun 2024 lalu mencapai Rp191,24 miliar, sedangkan hingga Juni 2025, penyerapan belanja modal sudah menyentuh Rp92,14 miliar .
“Perseroan berencana untuk terus fokus dalam belanja modal di tahun-tahun mendatang untuk meningkatkan dan memperluas infrastruktur penilaian kredit,” jelas manajemen.
Di sisi lain, dari segi kinerja keuangan, Superbank telah berhasil membalikkan posisi rugi bersih selama tahun 2024 menjadi laba Rp60,13 miliar per akhir kuartal tiga 2025, atau melonjak 121,04% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyaluran kredit Superbank juga tercatat melonjak 84,47% menjadi Rp9,04 triiliun per September 2025, dengan rasio non-performing loan (NPL) gross 2,83%.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 203% menjadi Rp9,8 triliun, menjadikan loan-to-deposit ratio (LDR) bank digital ini berada di level 92,06%.
Selain itu, dari segi rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR), Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Superbank per September 2025 mencapai 92,06%.
Namun, Perseroan mengaku belum memiliki “saldo laba ditahan positif yang memungkinkan Perseroan untuk membagikan dividen” hingga prospektus IPO final tersebut diterbitkan.
Sejalan dengan hal ini, berdasarkan data IDNFinancials.com, sebagian besar emiten bank digital di BEI memang belum tercatat memiliki jadwal distribusi dividen rutin karena masih berfokus pada penguatan modal.
Namun, terdapat beberapa pengecualian, seperti PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) yang telah membayarkan dividen secara berkala sejak tahun buku 2023, dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), yang baru membagikan dividen tahun buku 2024 pada April 2025 lalu. (ZH)