Demi AI Grok, Elon Musk akuisisi APR Energy senilai US$1 miliar
Senin, 20 Juli 2026
JAKARTA - Miliarder teknologi Elon Musk dilaporkan mengakuisisi perusahaan pembangkit listrik bergerak APR Energy dalam transaksi bernilai lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp18 triliun.
Seperti dikutip Bisnis Tekno, akuisisi tersebut dilakukan tanpa pengumuman resmi dan baru terungkap melalui dokumen early termination notice yang diterbitkan Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen regulator, transaksi tersebut mendapat persetujuan untuk dilanjutkan tanpa peninjauan antimonopoli lanjutan karena tidak dinilai menimbulkan praktik monopoli.
Sebelum diakuisisi, APR Energy dimiliki Fortress Investment Group yang mengambil alih aset perusahaan pada akhir 2024 sebelum melepasnya melalui entitas New APR Energy LLC.
Akuisisi ini diyakini bertujuan memperkuat pasokan listrik bagi pusat data xAI yang menjalankan chatbot kecerdasan buatan Grok.
APR Energy mengoperasikan armada turbin gas serta generator berbahan bakar diesel dan gas alam yang dipasang di atas trailer sehingga mudah dipindahkan ke berbagai lokasi.
Keunggulan utama pembangkit bergerak tersebut adalah mampu menghasilkan listrik dalam waktu kurang dari 10 menit setelah diaktifkan dan dapat dipasang hanya dalam hitungan hari.
Kemampuan itu membuatnya menjadi solusi cepat dibandingkan pembangunan pembangkit listrik permanen yang membutuhkan proses perizinan dan konstruksi selama bertahun-tahun.
Langkah Musk dilakukan di tengah lonjakan kebutuhan listrik untuk menopang pengembangan teknologi AI.
Superkomputer Colossus dan Colossus 2 milik xAI di Memphis, Tennessee, yang digunakan untuk melatih model AI Grok, sebelumnya dilaporkan memanfaatkan turbin gas bergerak sebagai sumber pasokan listrik tambahan.
Penggunaan turbin tersebut memicu kritik dari sejumlah organisasi lingkungan.
NAACP, Southern Environmental Law Center, dan Earthjustice menggugat xAI dengan tuduhan melanggar Clean Air Act.
Kelompok tersebut memperkirakan pengoperasian turbin tanpa izin emisi berpotensi menghasilkan lebih dari 2.000 ton emisi nitrogen oksida (NOx), yang dinilai dapat memperburuk kualitas udara.
Dengan menguasai APR Energy, Musk kini memperoleh akses langsung terhadap armada pembangkit listrik bergerak yang dapat ditempatkan di dekat pusat data untuk memenuhi kebutuhan daya tanpa harus menunggu pembangunan jaringan listrik konvensional.
Akuisisi tersebut juga menjadi perhatian analis industri karena dinilai kontras dengan citra Musk sebagai pendukung energi bersih melalui Tesla dan SolarCity.
Namun, tingginya kebutuhan listrik untuk komputasi AI membuat pembangkit berbahan bakar gas alam dipandang sebagai solusi paling cepat tersedia dibandingkan pembangunan pembangkit energi terbarukan maupun perluasan jaringan listrik nasional. (DK)