Survei bankir: Tahun 2026 outstanding kredit akan turun jadi 7,51%

Senin, 20 Juli 2026

image

JAKARTA - Hasil Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit baru pada triwulan II 2026 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kredit baru sebesar 93,08%, lebih tinggi dibandingkan SBT 38,74% pada triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan kredit baru terjadi pada seluruh jenis penggunaan, tercermin dari nilai SBT yang meningkat pada Kredit Modal Kerja, Kredit Investasi, dan Kredit Konsumsi.

Pada triwulan III 2026, penyaluran kredit baru diprakirakan tetap tumbuh dengan SBT sebesar 84,65%.

Perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru pada triwulan II 2026 dibandingkan triwulan I 2026, tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang positif sebesar 1,03.

Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut antara lain pada aspek suku bunga kredit, plafon kredit, perjanjian kredit, jangka waktu kredit, dan biaya persetujuan kredit.

Pada triwulan III 2026, standar penyaluran kredit diprakirakan lebih longgar, dengan ILS negatif sebesar 2,25.

Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 terus tumbuh. Kondisi ini didukung oleh prospek ekonomi dan moneter yang tetap positif, serta risiko penyaluran kredit yang terjaga.

Hasil lengkap survei dapat dilihat dalam menu Survei Perbankan pada situs web Bank Indonesia.

Outstanding Kredit Turun

Di dokumen bagian "C. Prakiraan Tahun 2026", Bank Indonesia menyebutkan bahwa responden (para banker dari 40 bank besar) memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 tumbuh sebesar 7,51% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,69% (yoy).

 Prakiraan tersebut termoderasi dibandingkan prakiraan responden pada periode survei sebelumnya sebesar 8,06% (yoy).

Sementara itu, DPK pada akhir tahun 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 6,18% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun 2025 sebesar 13,83% (yoy), dan termoderasi dari prakiraan periode survei sebelumnya sebesar 8,47% (yoy). (DK)