DBS proyeksikan IHSG 9.500 di 2026, saham Grup Barito jadi kunci?

Rabu, 17 Desember 2025

image

JAKARTA – Laporan riset Bank DBS Indonesia memasang target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 9.500 untuk tahun 2026 dengan P/E 15x seiring dengan pertumbuhan laba perseroan yang didukung perbaikan makroekonomi.

Target tersebut dibuat berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi nasional 5,2%, nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp16.350–16.500, dan proyeksi pertumbuhan laba (earnings) hingga 7,8% secara tahunan.

“Seiring dengan saham Grup Barito yang tampak solid pada tahun 2026, serta potensi masuknya beberapa saham yang sedang naik daun ke MSCI, kami percaya IHSG memiliki landasan yang kuat untuk mempertahankan momentum positif ke depannya,” ujar tim analis Bank DBS untuk Indonesia.

Tidak hanya itu, Bank DBS Indonesia bahkan memperkirakan IHSG bisa menyentuh level 12.500 dalam scenario bullish-nya.

Hal ini dapat terealisasi jika nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp16.000 ke bawah, pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten berada di atas target 5%, dan pertumbuhan laba perseroan bisa menembus 10%.

Di sisi lain, jika kinerja perseroan penghasil komoditas tidak memenuhi ekspektasi, rupiah masih terus melemah di atas Rp16.500, dan saham favorit domestik, seperti Grup Barito, terkoreksi, IHSG justru dapat kembali ambles ke level 8.000.

Namun, DBS Indonesia menyoroti potensi perbaikan kondisi makroekonomi dalam negeri, didukung oleh belanja pemerintah yang mulai meningkat, stimulus, dan ekspektasi nilai tukar terhadap dolar AS yang menguat.

Tren positif ini, menurut analis, lantas akan memicu kinerja perusahaan di sektor terdekat dengan pemerintah, seperti perbankan dan barang konsumsi (consumer goods).

Kedua sektor tersebut cukup redup sepanjang tahun 2025. Namun, hal ini justru dipandang analis sebagai kesempatan untuk mengambil posisi sebelum tren berbalik arah naik.

Dalam laporan yang sama, Bank DBS mengungkapkan delapan saham emiten yang menunjukkan resiliensi dan prospek pertumbuhan laba, yang menjadi saham rekomendasi.

Saham-saham ini merupakan saham-saham blue chip yang sempat redup pada tahun 2025, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Selain saham-saham bank dan barang konsumsi, valuasi IHSG juga dapat bertumbuh berkat pergerakan saham-saham komoditas milik konglomerat, seperti saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu atau saham Grup Bakrie.

Saham-saham "konglo" memang menjadi buruan investor domestik sepanjang tahun ini, dan Bank DBS pun memprediksi bahwa ketertarikan terhadap saham-saham tersebut tetap tinggi pada tahun 2026.

“Hal ini disebabkan oleh ekspektasi ekspansi bisnis, baik secara organik dan inorganik,” tambah analis.

Di sisi lain, Bank DBS memproyeksikan aliran dana investor asing akan masuk secara bertahap di 2026, karena terdapat pertimbangan mengenai kondisi makroekonomi Indonesia, yang akan tercermin pada pertumbuhan laba emiten. (ZH)