Ekspor panel surya China ke ASEAN melonjak, permintaan tetap kuat
Selasa, 21 Juli 2026
TIONGKOK - Ekspor sel dan panel surya China ke negara-negara Afrika dan Asia Tenggara terus mencatat pertumbuhan pada April, mencerminkan kuatnya permintaan global terhadap energi terbarukan meski terdapat kekhawatiran kenaikan harga.
Berdasarkan data bea cukai China, ekspor panel surya ke Afrika meningkat 83% secara tahunan menjadi 123.787 metrik ton pada April.
Seperti dikutip Reuters, namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan 209.474 ton pada Maret. Sebagai perbandingan, ekspor ke Afrika pada April 2025 tercatat 67.552 ton.
Lonjakan pengiriman pada Maret dipicu oleh percepatan pembelian dari berbagai negara sebelum China mengakhiri kebijakan insentif pengembalian pajak ekspor pada 1 April, yang diperkirakan akan mendorong kenaikan harga produk surya.
Sementara itu, ekspor ke Asia Tenggara naik 75% secara tahunan menjadi 170.733 ton pada April, meski turun dari 336.891 ton pada Maret.
Secara keseluruhan, ekspor sel dan panel surya China pada April meningkat 60% secara tahunan berdasarkan jumlah unit dan naik 4% dari sisi volume.
Kenaikan tersebut tertahan oleh melemahnya pengiriman ke Asia Selatan dan Timur Tengah.
Belanda menjadi negara pengimpor terbesar berdasarkan volume dengan total 177.391 ton, meski nilainya turun 2,5% secara tahunan menjadi US$380,8 juta.
Filipina menempati posisi kedua sebagai importir terbesar.
Impor negara tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan April tahun lalu, meski volumenya turun menjadi 56.744 ton dari 111.599 ton pada Maret.
Di Afrika, Afrika Selatan menjadi pembeli terbesar dengan peningkatan impor sebesar 81,4% secara tahunan.
Sementara itu, ekspor ke Republik Demokratik Kongo melonjak 482% menjadi 17.953 ton, seiring meningkatnya kebutuhan listrik di negara yang masih memiliki tingkat elektrifikasi rendah. (DK)