Gubernur Tokyo sebut yen lemah jadi magnet startup asing
Selasa, 21 Juli 2026
JAKARTA - Pelemahan nilai tukar yen dinilai menjadi keunggulan kompetitif bagi Tokyo dalam menarik startup dan investor global.
Seperti dikutip Bloomberg, Gubernur Tokyo, Yuriko Koike, mengatakan depresiasi mata uang Jepang membuat biaya perekrutan tenaga kerja berkualitas menjadi lebih murah bagi perusahaan asing yang ingin berekspansi ke ibu kota Jepang.
Dalam wawancara dengan Bloomberg di New York, Koike menilai Tokyo memiliki sumber daya manusia yang kompeten sehingga pelemahan yen justru menjadi nilai tambah bagi investor yang ingin membangun bisnis di Jepang.
"Tokyo memiliki sejumlah besar orang yang sangat baik dan terampil, baik pria maupun wanita.”
"Saya percaya yen yang lemah memiliki kelebihan."
Menurut Koike, nilai tukar yen yang berada di dekat level terlemahnya dalam hampir 40 tahun membantu perusahaan asing memperoleh talenta berkualitas dengan biaya yang lebih kompetitif.
Ia juga mengaku belum menerima keluhan mengenai dampak negatif pelemahan mata uang tersebut dari kalangan pelaku usaha.
Meski demikian, yen yang lemah tetap mengurangi daya beli pengusaha Jepang yang ingin membelanjakan pendapatannya di luar negeri.
Pernyataan itu disampaikan Koike saat menghadiri FinCity.Tokyo Forum di New York, forum yang bertujuan mempromosikan Tokyo sebagai pusat keuangan global. Dalam kunjungan tersebut, ia juga menghadiri konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di bawah kepemimpinannya, Pemerintah Metropolitan Tokyo terus mendorong transformasi kota menjadi pusat keuangan internasional sekaligus pusat pertumbuhan startup melalui berbagai program untuk meningkatkan inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Salah satu pilar strateginya adalah Tokyo Innovation Base, pusat pengembangan kewirausahaan yang mendukung startup, serta SusHi Tech Tokyo, konferensi tahunan yang mempertemukan startup, investor, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Pemerintah Tokyo menargetkan ibu kota Jepang menjadi "kota paling ramah startup di dunia."
Namun, berdasarkan Global Startup Ecosystem Report 2026 yang diterbitkan Startup Genome, Tokyo masih berada di peringkat ke-12 dunia dan tertinggal dari Beijing, Singapura, Seoul, serta Shanghai dalam ekosistem startup global.
Koike menilai daya tarik utama Tokyo tidak hanya berasal dari biaya operasional yang kompetitif, tetapi juga dari stabilitas institusi yang dimiliki Jepang.
"Yang penting tentang Tokyo, dan Jepang, adalah pertama, ini adalah negara demokrasi. Kedua, negara ini diatur oleh supremasi hukum. Dan ketiga, kebebasan berbicara."
"Saya percaya ketiga kualitas itulah yang membuat Tokyo menonjol dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia."
Untuk meningkatkan daya saing, Pemerintah Tokyo juga mendorong perusahaan menyediakan materi hubungan investor dalam berbagai bahasa, memberikan dukungan bagi perusahaan asing yang ingin mendirikan usaha, serta memperluas jumlah sekolah internasional guna menarik tenaga profesional dari luar negeri.
Di sisi lain, pemerintah Jepang baru-baru ini memperketat persyaratan visa manajemen bisnis, yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha kecil.
Namun, Koike menilai kebijakan tersebut tidak akan menghambat profesional sektor keuangan maupun investor yang memiliki keahlian teknis.
Ia menambahkan, Pemerintah Metropolitan Tokyo terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi startup, sekaligus mendukung strategi pertumbuhan ekonomi Jepang melalui penciptaan iklim investasi yang lebih kompetitif.(DH)