Krisis Hormuz picu lonjakan harga LNG, Asia percepat transisi
Selasa, 21 Juli 2026
JAKARTA - Pakistan dan Bangladesh terpaksa membeli kargo liquefied natural gas (LNG) di pasar spot dengan harga tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan global.
Seperti dikutip Bloomberg, Pakistan LNG Ltd., perusahaan milik negara, membeli satu kargo LNG untuk pengiriman akhir Juli dengan harga sekitar US$21,88 per juta British thermal units (mmBtu) pada Senin. Menurut pelaku pasar, harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2022.
Sementara itu, pembeli LNG milik pemerintah Bangladesh juga mengamankan setidaknya satu kargo untuk pengiriman Agustus pada harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan kontrak jangka panjang.
Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan LNG dunia, telah mendorong kenaikan harga spot sekaligus memperburuk krisis energi di sejumlah negara Asia Selatan.
Situasi semakin sulit setelah Qatar, pemasok LNG terbesar bagi Pakistan dan Bangladesh, membatalkan pengiriman terjadwal menyusul penutupan fasilitas ekspor pada Maret pascaserangan Iran.
Harga LNG di pasar spot kini sekitar dua kali lipat lebih mahal dibandingkan pasokan kontrak jangka panjang dari Qatar. Hingga kini, negara Teluk tersebut juga masih menunda pemulihan produksi setelah ketegangan terbaru di sekitar Selat Hormuz.
Meski pembelian darurat itu membantu mengurangi risiko pemadaman listrik dalam jangka pendek, biaya impor yang melonjak diperkirakan memperbesar beban fiskal kedua negara. Kondisi tersebut juga meningkatkan tekanan bagi pemerintah untuk menaikkan tarif listrik dan gas guna menjaga keberlanjutan sektor energi.
Krisis pasokan tersebut mendorong Bangladesh mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Pemerintah Dhaka telah meluncurkan paket insentif pada bulan lalu, termasuk pembebasan pajak untuk sektor tenaga surya hingga 2035.
Impor panel dan sel surya dari China juga terus meningkat. Pengiriman teknologi surya dari produsen terbesar dunia itu naik 40% pada semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski volumenya masih relatif terbatas.
Selain itu, pemerintah Bangladesh menggandeng organisasi nonpemerintah untuk mempercepat investasi di sektor surya dengan target kapasitas terpasang mencapai 10 gigawatt (GW) pada 2030. Sebagai perbandingan, kapasitas tenaga surya negara tersebut baru sekitar 1,7 GW pada 2024.
Di sisi lain, Pakistan mulai mengurangi ketergantungan terhadap LNG dengan meningkatkan bauran energi dari pembangkit nuklir, batu bara, dan energi terbarukan.
Data Optimus menunjukkan produksi listrik dari pembangkit nuklir melonjak 30% secara tahunan pada Juni, sementara pembangkit berbahan bakar batu bara meningkat 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.(DH)