Survei: Ekspektasi inflasi rumah tangga Singapura naik jadi 3,4%
Selasa, 21 Juli 2026
SINGAPURA - Ekspektasi inflasi rumah tangga di Singapura meningkat tipis pada Juni 2026 seiring bertambahnya ketidakpastian global, gangguan rantai pasokan, dan potensi penerapan tarif baru.
Survei terbaru Indeks Ekspektasi Inflasi Singapura (Sindex) yang disusun DBS Group Research bersama Singapore Management University (SMU) menunjukkan ekspektasi inflasi utama untuk 12 bulan mendatang naik menjadi rata-rata 3,4%, dibandingkan 3,3% pada Maret.
Seperti dikutip TheBusinessTimes, ekspektasi inflasi inti, yang mengecualikan biaya akomodasi dan transportasi pribadi, juga meningkat ke level 3,4% dari 3,3% pada kuartal sebelumnya.
Kepala Ekonom DBS, Dr. Taimur Baig, mengatakan kenaikan inflasi global pada 2026 dipengaruhi oleh gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah serta meningkatnya permintaan yang didorong perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Survei terhadap 536 responden pada Juni menunjukkan 87,7% memperkirakan inflasi akan meningkat dalam setahun ke depan, sedikit lebih rendah dibandingkan 88,3% pada survei Maret.
DBS dan SMU menyatakan responden berasal dari berbagai kelompok rumah tangga di Singapura.
Pekerja di sektor tertentu, seperti jurnalisme dan pemasaran, tidak dilibatkan untuk menghindari potensi bias dalam hasil survei.
Di antara responden yang memperkirakan kenaikan harga, sebanyak 57,8% menilai ketegangan geopolitik dan konflik di Timur Tengah maupun Eropa menjadi faktor utama.
Sementara itu, 14,3% menyoroti gangguan rantai pasokan, dan 9,4% mengaitkannya dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan, termasuk ancaman tarif baru.
Meski tekanan harga dinilai meningkat, Dr. Baig menegaskan hasil survei belum menunjukkan perubahan sentimen konsumen yang signifikan atau mengkhawatirkan terkait biaya hidup. (DK)