Imbal hasil obligasi AS naik di tengah konflik Timur Tengah

Selasa, 21 Juli 2026

image

NEW YORK – Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) naik pada Senin (20/7) seiring investor Wall Street mencermati perkembangan terbaru dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Seperti dikutip CNBC, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama biaya pinjaman pemerintah AS, naik lebih dari 5 basis poin menjadi 4,594%.

Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,211%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun juga meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 5,115%.

Satu basis poin setara dengan 0,01%, sedangkan harga obligasi dan imbal hasil bergerak berlawanan arah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan berturut-turut pada Minggu (19/7) pukul 22.00 waktu setempat.

Operasi selama tiga jam tersebut menargetkan pusat komando militer Iran, sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, kemampuan maritim, serta lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak.

CENTCOM menyatakan operasi itu bertujuan semakin melemahkan kemampuan Teheran untuk menyerang kapal dagang dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.

Dalam beberapa hari terakhir, cakupan serangan Amerika Serikat semakin meluas. Teheran melaporkan sejumlah infrastruktur sipil ikut menjadi sasaran, termasuk fasilitas desalinasi Bonji yang menyebabkan pasokan air bagi sekitar 10.000 penduduk terputus.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan baru ke sejumlah target di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania. Militer Kuwait pada Senin (20/7) juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan pesawat nirawak "bermusuhan" yang diluncurkan dari Iran.

Pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat sempat turun setelah investor mencerna serangkaian data ekonomi yang menunjukkan perekonomian Negeri Paman Sam masih mampu bertahan di tengah tekanan inflasi akibat perang Iran.

Penurunan biaya pinjaman tersebut dipicu oleh data indeks harga produsen (PPI) dan indeks harga konsumen (CPI) yang lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, klaim tunjangan pengangguran Amerika Serikat untuk pekan yang berakhir pada 11 Juli tercatat sebesar 208.000, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar.

Selanjutnya, investor akan mencermati rilis laporan awal (Flash PMI) S&P Global Amerika Serikat pada Jumat (24/7). Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi sektor manufaktur dan jasa di Amerika Serikat. (ARF)