India siapkan etanol jadi bahan bakar dapur dampingi LPG

Selasa, 21 Juli 2026

image

NEW DELHI — Etanol berpeluang segera menjadi alternatif bahan bakar memasak di rumah tangga India. Di tengah perdebatan mengenai dampak penggunaan bensin E20, Kementerian Minyak Bumi dan Gas Alam India tengah menyusun kerangka kebijakan untuk mendorong pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar memasak yang digunakan berdampingan dengan LPG.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, pemerintah diperkirakan akan mengkaji skema subsidi serta menyiapkan rantai pasok guna mempercepat adopsi etanol. Di saat yang sama, asosiasi industri bahan bakar juga dilaporkan tengah berdiskusi dengan pemerintah mengenai implementasi kebijakan tersebut.

Dikutip dari Times of India, etanol merupakan bahan bakar terbarukan yang diproduksi melalui proses fermentasi gula dan biji-bijian. Perluasan penggunaannya ke sektor rumah tangga dinilai dapat mengurangi ketergantungan India terhadap LPG sekaligus menekan biaya impor energi.

Seorang eksekutif industri mengatakan bahwa pemerintah tengah mematangkan kebijakan energi alternatif agar etanol dapat digunakan bersama LPG sebagai bahan bakar memasak rumah tangga. Kerangka regulasi tersebut ditargetkan akan rampung pada September 2026. Sebelumnya, pemerintah telah memulai uji coba kompor berbahan bakar etanol pada April 2026 sebagai bagian dari upaya menyediakan alternatif memasak yang lebih ramah lingkungan.

Untuk mempercepat adopsi kompor etanol, pemerintah juga mempertimbangkan pemberian subsidi, baik dalam bentuk dukungan investasi awal maupun insentif fiskal berkelanjutan.

Langkah tersebut dilakukan di tengah lonjakan kapasitas produksi etanol domestik. Laporan lembaga pemeringkat CareEdge menunjukkan bahwa kapasitas produksi etanol tahunan India telah mencapai 20 miliar liter, dengan tambahan kapasitas sekitar 4 miliar liter yang diperkirakan tersedia pada tahun fiskal berjalan.

Dari total kapasitas tersebut, sekitar 11 miliar liter dialokasikan untuk program pencampuran bensin E20, sementara industri alkohol, farmasi, dan kimia menyerap sekitar 3 hingga 3,5 miliar liter. Dengan demikian, masih terdapat surplus kapasitas produksi sekitar 7 miliar liter yang belum dimanfaatkan.

Surplus tersebut membuka peluang bagi India untuk menjajaki ekspor etanol ke negara-negara tetangga seperti Nepal, Bangladesh, dan Indonesia yang telah menetapkan target pencampuran etanol sebesar 10%, tetapi masih menghadapi keterbatasan kapasitas distilasi dan pasokan bahan baku domestik.

Perusahaan pemasaran minyak milik negara juga akan berperan dalam pengembangan ekosistem tersebut. Selain melakukan riset terhadap kompor berbahan bakar etanol dan menjajaki akuisisi teknologi terkait, perusahaan-perusahaan tersebut direncanakan memasang anjungan mandiri etanol atau ATM etanol di stasiun pengisian bahan bakar. Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat membeli etanol menggunakan wadah tabung khusus.

Urgensi diversifikasi energi ini semakin meningkat setelah ketegangan geopolitik di Asia Barat sempat mengganggu stabilitas pasokan LPG India. Pemanfaatan surplus etanol dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor LPG dari kawasan Teluk.

Laporan International Institute for Sustainable Development (IISD) memperkirakan transisi bertahap menuju energi yang lebih bersih, seperti listrik dan biogas, berpotensi menghemat subsidi LPG India hingga lebih dari 2 triliun rupee atau sekitar US$24 miliar pada 2050. (ARF)