Hamas tunjuk Khalil al-Hayya sebagai pemimpin baru, siapa dia?

Selasa, 21 Juli 2026

image

GAZA – Hamas menunjuk Khalil al-Hayya sebagai pemimpin barunya, menggantikan Yahya Sinwar yang tewas dalam operasi militer Israel pada Oktober 2024.

Seperti dikutip Al Jazeera, al-Hayya, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil ketua Hamas sekaligus salah satu dari lima anggota dewan kepemimpinan organisasi tersebut, memenangkan pemungutan suara internal pada putaran kedua melawan mantan pemimpin politik Hamas, Khaled Meshaal. Pengumuman itu disampaikan Hamas dalam pernyataan resminya pada Senin (20/7).

Pengaruh al-Hayya semakin besar setelah sejumlah petinggi Hamas tewas sepanjang 2024, termasuk Yahya Sinwar dan komandan militer Mohammed Deif di Gaza, serta Ismail Haniyeh yang tewas dalam pembunuhan saat berkunjung ke Teheran pada tahun yang sama.

Setelah kehilangan para pemimpin tersebut, al-Hayya menjadi salah satu dari lima tokoh yang memimpin dewan kepemimpinan Hamas, komite pemerintahan sementara beranggotakan lima orang yang dibentuk pada akhir 2024 untuk mengelola Gaza selama perang dengan Israel.

Al-Hayya juga merupakan kepala negosiator Hamas ketika kesepakatan gencatan senjata dengan Israel dicapai pada Oktober 2025. Namun, kesepakatan tersebut belum berhasil menghentikan serangan-serangan mematikan Israel di Jalur Gaza.

Sepanjang kariernya, al-Hayya juga menjadi sasaran sedikitnya dua upaya pembunuhan oleh pasukan Israel.

"Israel belum memberikan tanggapan resmi terhadap hasil pemilihan ini. Namun, di Israel ia digambarkan sebagai sosok 'garis keras' yang dinilai lebih dekat dengan Iran dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, bahkan Turki. Hal ini tentu dapat memberikan gambaran mengenai arah perkembangan situasi ke depan," kata koresponden Al Jazeera, Nour Odeh, dari dekat Ramallah di Tepi Barat yang diduduki.

Ia menjelaskan bahwa proses pemilihan di internal Hamas berlangsung sangat kompleks dan memakan waktu berbulan-bulan.

"Proses pemilihan ini sangat rumit. Berbagai tahapan pemilihan di Tepi Barat, Gaza, penjara-penjara Israel, hingga komunitas diaspora Hamas berlangsung selama berbulan-bulan sebelum akhirnya mencapai tahap akhir ini," ujarnya.

Lahir di Jalur Gaza pada 1960, al-Hayya telah menjadi anggota Hamas sejak organisasi tersebut didirikan pada 1987. Ia kemudian terpilih menjadi anggota parlemen Otoritas Palestina pada 2006.

Peran diplomatik al-Hayya semakin menonjol karena sebagian besar aktivitasnya berbasis di Qatar, yang menjadi pusat utama berbagai upaya mediasi dengan Israel, Mesir, Amerika Serikat, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Beroperasi dari luar Gaza memungkinkannya melakukan perjalanan dan menjalin koordinasi dengan negara-negara di kawasan tanpa terkendala blokade Israel terhadap Jalur Gaza. Ia juga memimpin delegasi Hamas dalam berbagai perundingan yang dimediasi pihak ketiga untuk mengupayakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Keluarga al-Hayya juga menjadi korban dari serangan Israel. Empat anaknya tewas dalam berbagai serangan selama bertahun-tahun.

Pada perang 2014, serangan Israel menghancurkan rumah putra sulungnya, Osama, yang tewas bersama istrinya dan tiga anak mereka.

Sementara itu, pada September tahun lalu, serangan Israel terhadap sebuah kompleks permukiman di pusat Doha, Qatar, menewaskan lima orang, termasuk putranya, Humam. (ARF)