AS pastikan pelayaran di Selat Hormuz tetap berjalan

Selasa, 21 Juli 2026

image

WASHINGTON – Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menegaskan bahwa pemerintah AS akan terus memastikan arus pelayaran di Selat Hormuz tetap berjalan meski tanpa kerja sama Iran. Pernyataan itu disampaikan lebih dari sepekan setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.

Seperti dikutip The Hill, Wright mengatakan bahwa Presiden Donald Trump masih mengedepankan penyelesaian diplomatik atas konflik tersebut.

"Presiden selalu mencari jalan keluar melalui jalur diplomasi. Presiden Trump ingin mengakhiri konflik ini melalui kesepakatan damai dengan Iran, tetapi hal tersebut membutuhkan kesediaan dari kedua belah pihak," kata Wright dalam wawancara dengan Jonathan Karl di program This Week ABC News pada Minggu (19/7).

"Jika mereka siap, maka konflik ini akan berakhir dengan cara itu. Jika tidak, kami akan terus memastikan arus pelayaran melalui Selat Hormuz tetap berjalan tanpa kerja sama Iran," tambahnya.

Dalam wawancara tersebut, Karl juga menyinggung pernyataan Wright pada Maret 2026 lalu yang memprediksi bahwa konflik dengan Iran akan berakhir dalam beberapa pekan, bahkan lebih cepat. Setelah konflik berlangsung selama lima bulan, Karl mempertanyakan kapan perang tersebut akan benar-benar berakhir.

Wright menjelaskan bahwa operasi militer awal diperkirakan membutuhkan waktu antara empat hingga enam pekan dan akhirnya berlangsung sekitar lima setengah pekan.

"Kami sempat menghentikan operasi untuk mencoba mencapai kesepakatan dengan Iran agar aliran minyak dapat berlangsung tanpa adanya serangan terhadap jalur tersebut," ujarnya, merujuk pada nota kesepahaman yang kini telah dibatalkan setelah kedua negara kembali terlibat konflik.

"Namun mereka terbukti tidak bersedia melakukannya, sehingga kami mengubah pendekatan," lanjut Wright.

Ia mengatakan pemerintah AS kini berupaya memastikan pasokan minyak dan gas tetap mengalir melalui Selat Hormuz, "dengan atau tanpa kerja sama Iran", sembari terus melemahkan kemampuan ofensif militer Teheran.

Wright saat ini tengah memperkirakan kapan Selat Hormuz akan kembali beroperasi normal dan kapan harga bahan bakar di Amerika Serikat akan turun.

Pada April lalu, ia memperkirakan harga bensin tidak akan turun di bawah US$3 per galon hingga tahun depan. Namun, pernyataan tersebut sempat dibantah oleh Presiden Trump yang menyebut prediksi itu "sepenuhnya keliru". Sebulan kemudian, Wright mengatakan dirinya tidak lagi ingin membuat proyeksi mengenai harga bensin.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Mei 2026, Wright memperkirakan Selat Hormuz akan kembali dibuka "paling lambat pada musim panas tahun ini".

Ia juga memperingatkan bahwa apabila Iran terus "menyandera perekonomian dunia", militer Amerika Serikat akan memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz, meski mengakui langkah tersebut bukan operasi yang mudah dilakukan.

Pada sebuah acara Atlantic Council pada Juni, saat kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata, Wright mengatakan volume minyak yang melintasi Selat Hormuz akan meningkat secara signifikan. Beberapa hari kemudian, ia menyatakan arus distribusi minyak mulai kembali normal.

Sementara itu, harga rata-rata bensin nasional di Amerika Serikat naik menjadi US$4 per galon pada Minggu (19/7), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan lalu dan lebih dari 10 sen di atas level pekan sebelumnya, berdasarkan data AAA. Sebagai perbandingan, harga rata-rata bensin nasional pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar US$3,15 per galon. (ARF)