IMF soroti dampak tarif AS terhadap pola impor
Selasa, 21 Juli 2026
WASHINGTON – Tarif impor yang diberlakukan Amerika Serikat dinilai tidak banyak membuat eksportir asing menurunkan harga produknya. Sebaliknya, kebijakan tersebut justru mendorong importir di Amerika Serikat beralih ke barang yang lebih murah dan, dalam beberapa kasus, berkualitas lebih rendah.
Seperti dikutip Business Today, temuan tersebut berasal dari Working Paper Dana Moneter Internasional (IMF) yang mengkaji dampak kenaikan tarif impor Amerika Serikat terhadap harga barang dan pola perdagangan.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa tarif yang dikenakan Amerika Serikat sebagian besar diteruskan ke harga impor. Sementara itu, eksportir asing hanya menanggung sebagian kecil dari tambahan biaya tersebut.
Alih-alih menurunkan harga sebelum tarif agar tetap kompetitif, sebagian besar pemasok luar negeri mempertahankan harga mereka. Kondisi ini membuat importir Amerika Serikat memilih mencari alternatif produk dengan harga yang lebih rendah.
Berdasarkan penelitian tersebut, penurunan harga impor secara agregat bukan disebabkan oleh eksportir yang memberikan diskon, melainkan karena pergeseran sumber impor ke pemasok dan produk yang lebih murah.
Para penulis juga mencatat bahwa perubahan komposisi impor tersebut diikuti oleh meningkatnya porsi barang impor berkualitas lebih rendah. Pola serupa sebelumnya juga terjadi saat perang tarif antara Amerika Serikat dan China pada 2018-2019.
Berdasarkan data transaksi dari Bea Cukai Amerika Serikat terkait kenaikan tarif pada 2025, studi tersebut menemukan bahwa sebagian besar beban tarif tetap tercermin pada harga impor.
Eksportir hanya memangkas harga sebelum tarif dalam jumlah yang sangat terbatas. Dengan demikian, dampak tarif lebih banyak diserap melalui perubahan sumber pasokan dibandingkan dengan penyesuaian harga.
Menurut IMF, pergeseran menuju barang impor berkualitas lebih rendah memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar perubahan arus perdagangan.
Barang antara (intermediate goods) dengan kualitas lebih rendah berpotensi menekan produktivitas perusahaan. Di sisi lain, konsumen juga dapat menerima produk dengan kualitas yang lebih rendah meskipun harga impor rata-rata terlihat menurun.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tarif lebih banyak mengubah komposisi impor Amerika Serikat daripada memaksa eksportir asing memberikan konsesi harga yang signifikan.
Ketika importir mengalihkan pembelian dari pemasok yang lebih mahal ke pemasok yang lebih murah, penurunan rata-rata harga impor lebih mencerminkan perubahan komposisi barang yang diimpor, bukan penurunan harga untuk produk yang sebanding.
Sejak kembali menjabat sebagai presiden Amerika Serikat pada 2025, Donald Trump telah memperluas penerapan tarif impor terhadap sejumlah mitra dagang. Trump berpendapat bahwa kebijakan tersebut akan mendorong produksi dalam negeri sekaligus memperbaiki posisi perdagangan Amerika Serikat.
Makalah IMF ini mengkaji bagaimana kenaikan tarif tersebut memengaruhi harga impor dan pola pengadaan barang oleh importir.
Temuan ini muncul ketika Amerika Serikat sejak April 2025 telah mengenakan tarif yang lebih tinggi terhadap impor dari sejumlah mitra dagang, termasuk India, sebagai bagian dari kebijakan tarif pemerintahan Trump.
India saat ini tengah bernegosiasi dengan Washington untuk memperoleh keringanan tarif sekaligus menyelesaikan perjanjian perdagangan bilateral dalam waktu dekat.
Makalah tersebut disusun oleh ekonom IMF JaeBin Ahn, Lorenzo Rotunno, dan Michele Ruta. IMF menegaskan bahwa analisis dalam penelitian tersebut merupakan hasil kajian staf IMF dan pandangan yang disampaikan sepenuhnya merupakan pendapat para penulis, bukan sikap resmi IMF, Dewan Eksekutif IMF, maupun manajemen IMF. (ARF)