TSMC yakin permintaan chip AI tetap kuat dalam jangka panjang

Senin, 22 Juni 2026

image

TAIPEI – TSMC memperkirakan permintaan chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan tetap kuat dalam jangka panjang seiring dengan percepatan investasi perusahaan pada fasilitas manufakturnya di Arizona, Amerika Serikat. Perusahaan mengakui tantangan terkait tenaga kerja dan infrastruktur masih dapat memengaruhi laju ekspansi.

Seperti dikutip Yahoo Finance, setelah membukukan kinerja kuartal II yang melampaui ekspektasi, Chief Financial Officer (CFO) TSMC, Wendell Huang, mengatakan bahwa perusahaan tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang dan telah menaikkan rencana investasi di Arizona menjadi US$265 miliar.

Permintaan AI

Huang mengatakan  permintaan pelanggan terhadap chip AI masih sangat kuat sehingga TSMC akan terus menambah kapasitas produksi dengan dukungan pemerintah Amerika Serikat.

"Kami akan terus berinvestasi," kata Huang seraya menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah AS.

"Kami terus melihat permintaan pelanggan yang kuat. Ini merupakan permintaan struktural yang akan berlangsung selama bertahun-tahun."

Sebagai produsen semikonduktor AI tercanggih di dunia sekaligus pemasok utama Nvidia, TSMC menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur permintaan global di industri semikonduktor.

Ekspansi tersebut juga menjadi dorongan penting bagi upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump meningkatkan kapasitas manufaktur semikonduktor domestik.

Trump berulang kali menyatakan Taiwan telah menguasai sebagian besar industri chip Amerika Serikat. Ia juga menargetkan agar saat masa jabatannya berakhir, Amerika Serikat mampu menguasai 50% kapasitas manufaktur semikonduktor global.

Menurut Huang, fasilitas fabrikasi pertama TSMC di Arizona kini telah beroperasi dan mampu menghasilkan tingkat produksi (yield) yang setara dengan fasilitas unggulan perusahaan di Taiwan.

Pabrik fabrikasi kedua sedang bersiap memasang peralatan produksi, sementara pembangunan fasilitas ketiga terus berjalan. Persiapan juga telah dimulai untuk pembangunan pabrik keempat serta fasilitas pengemasan chip canggih pertama di kawasan tersebut.

Jika seluruh proyek yang sedang berjalan dan yang direncanakan selesai dibangun, kompleks TSMC di Arizona akan memiliki 12 fasilitas fabrikasi dan pengemasan chip canggih serta satu pusat riset dan pengembangan (research and development/R&D).

Huang tidak menyampaikan jadwal penyelesaian proyek investasi terbaru tersebut.

Ia mengakui bahwa ekspansi masih menghadapi berbagai kendala praktis.

"Namun, ada keterbatasan fisik, mulai dari jumlah pekerja konstruksi yang tersedia hingga infrastruktur yang ada," ujarnya.

"Kami akan bekerja sama erat dengan pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut."

Di tengah ekspansi internasional, TSMC tetap menempatkan Taiwan sebagai pusat utama pengembangan teknologi semikonduktor paling mutakhir.

Perusahaan berencana membangun 13 fasilitas fabrikasi dan pengemasan chip canggih baru di Taiwan dalam beberapa tahun mendatang.

"Lahan merupakan sumber daya yang sangat terbatas di Taiwan," kata Huang.

"Karena itu, setiap kali ada lahan yang tersedia, kami akan menggunakannya untuk teknologi paling mutakhir."

Menurutnya, pengembangan teknologi tercanggih membutuhkan kolaborasi yang sangat erat antara tim riset dan operasional.

"Itu harus dilakukan di Taiwan. Setelah teknologinya stabil, barulah kami dapat mempertimbangkan untuk memindahkannya ke luar negeri," ujarnya.

Kontrol Ekspor

Huang juga mengatakan perusahaan tidak menutup kemungkinan untuk menghimpun pendanaan tambahan melalui penerbitan obligasi apabila kondisi pasar mendukung.

Saat ditanya mengenai kemungkinan penerbitan saham di Amerika Serikat, ia menyatakan perusahaan "tidak menutup kemungkinan menerbitkan obligasi baru."

TSMC juga masih menghadapi ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing, khususnya terkait pembatasan ekspor semikonduktor canggih dari Amerika Serikat ke China.

Menanggapi laporan mengenai penyelidikan pemerintah AS terkait sebuah chip yang kemudian digunakan dalam prosesor AI Huawei, Huang mengatakan TSMC terus meninjau sistem kepatuhan internal perusahaan dan menyerahkan penanganan kasus tersebut kepada otoritas Amerika Serikat.

"Saya harus mengatakan bahwa kemampuan kami untuk memastikan kepatuhan terhadap seluruh aturan dan regulasi memang ada batasnya. Ketika pelanggan menjual produk kepada pelanggan lain, transaksi itu berlangsung di luar kendali kami," katanya.

"Pada titik tertentu kami kehilangan visibilitas terhadap rantai distribusinya. Itulah kenyataannya."

Meski sebagian investor mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja AI dalam jangka panjang, TSMC tetap optimistis terhadap posisi kompetitifnya. Meskipun saham perusahaan yang diperdagangkan di Bursa Taipei melemah setelah laporan keuangan dirilis, nilainya masih melonjak hampir 50% sepanjang tahun ini.

Huang menegaskan TSMC tetap fokus mempertahankan kepemimpinan teknologinya di tengah persaingan yang semakin ketat.

"Kami tidak berniat menyia-nyiakan peluang apa pun," ujarnya.

"Pesaing kami memang hebat, tetapi kami lebih unggul." (ARF)