ECB: Kenaikan inflasi bisa dorong tuntutan kenaikan upah
Rabu, 22 Juli 2026
FRANKFURT – Perusahaan-perusahaan di zona euro memperkirakan bahwa kenaikan harga jual dan pertumbuhan upah akan melambat dalam 12 bulan ke depan.
Temuan ini memperkuat indikasi bahwa lonjakan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi belum memicu tekanan lanjutan terhadap harga secara lebih luas.
Seperti dikutip Reuters, hasil Survei Akses Pembiayaan Perusahaan (Survey on the Access to Finance of Enterprises) Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) yang dirilis pada Senin (20/7) menunjukkan bahwa ekspektasi kenaikan harga jual, biaya input non-tenaga kerja, dan upah menjadi lebih moderat dibandingkan survei sebelumnya.
Inflasi di kawasan euro saat ini berada di kisaran 3% akibat tingginya harga energi, masih jauh di atas target ECB sebesar 2%.
Para pembuat kebijakan khawatir tingkat inflasi tersebut dapat mendorong kenaikan ekspektasi inflasi dan tuntutan kenaikan upah yang berlebihan sehingga memicu spiral kenaikan harga yang sulit dikendalikan.
Rata-rata lebih dari 5.000 perusahaan yang mengikuti survei memperkirakan harga jual akan naik 3,2% dalam setahun ke depan, turun dari proyeksi 3,5% pada survei tiga bulan sebelumnya.
Sementara itu, biaya input non-tenaga kerja, termasuk energi, diperkirakan meningkat 5,2%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,8%.
Ekspektasi pertumbuhan upah juga melambat menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,8%. Data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi pembuat kebijakan ECB dalam rapat penetapan suku bunga pada Kamis mendatang.
Di sisi lain, ekspektasi inflasi perusahaan relatif tidak berubah.
Ekspektasi inflasi untuk satu tahun dan tiga tahun ke depan tetap berada di level 3,0%, sedangkan proyeksi lima tahun ke depan naik tipis menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,0%.
ECB secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pekan ini. Namun, kenaikan harga minyak mendorong ekspektasi pasar bahwa bank sentral masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga deposito, yang saat ini berada di level 2,25%, pada September. (ARF)