Kamboja tuduh Thailand gunakan gas beracun di konflik perbatasan

Kamis, 18 Desember 2025

image

JAKARTA - Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja kembali memanas setelah sejumlah tentara Kamboja melaporkan gangguan pernapasan yang diduga dipicu oleh serangan udara Thailand. Klaim tersebut disampaikan oleh para prajurit yang kini dirawat di rumah sakit di Provinsi Banteay Meanchey, barat laut Kamboja.

Dikutip reuters.com, salah satu prajurit, Kun Yong, mengatakan ia terpaksa mundur dari posisi garis depan setelah mengalami kesulitan bernapas menyusul sortie pesawat Thailand. “Rasanya seperti aku sedang tercekik,” ujarnya kepada Reuters dari ranjang rumah sakit.

Sejak awal Desember, bentrokan di perbatasan kedua negara telah menewaskan lebih dari 40 orang dan memaksa lebih dari setengah juta warga mengungsi, menjadikannya konflik paling sengit dalam beberapa dekade terakhir. Sejumlah tentara dan polisi Kamboja mengaku mengalami sesak napas setelah pesawat Thailand menjatuhkan zat yang mereka sebut sebagai “air beracun”.

Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh militer Thailand menggunakan “toxic gas” dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional. Tuduhan serupa disampaikan hampir setiap hari, termasuk di wilayah tempat Kun Yong bertugas.

Namun, Kamboja belum mengungkap jenis gas yang dimaksud, tidak menyertakan bukti, serta belum memastikan apakah telah mengajukan protes resmi ke otoritas internasional. Reuters juga menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Pihak Thailand membantah keras tuduhan tersebut. Juru Bicara Angkatan Udara Thailand, Marsekal Udara Jackkrit Thammavichai, menegaskan bahwa militer Thailand tidak pernah menggunakan senjata kimia dan menyebut laporan tersebut sebagai “berita palsu”. “Jika itu senjata kimia, mereka tidak akan mengalami kesulitan bernapas, mereka pasti sudah mati,” katanya.

Isu ini mengingatkan pada tuduhan Kamboja sebelumnya pada Juli lalu terkait penggunaan amunisi fosfor putih oleh Thailand. Meski Thailand mengakui memiliki amunisi tersebut, Bangkok menegaskan fosfor putih tidak dikategorikan sebagai senjata kimia dan digunakan untuk penerangan serta tirai asap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan paparan asap fosfor putih berbahaya bagi mata dan saluran pernapasan, namun Kamboja belum memastikan apakah zat tersebut terkait dengan kasus terbaru.

Dari sisi medis, rumah sakit di Banteay Meanchey melaporkan puluhan tentara dirawat dengan gejala pusing, muntah, dan kesulitan bernapas.

“Kami menyediakan apa pun yang tersedia untuk mereka di sini sebelum memindahkan mereka ke rumah sakit lain,” kata dokter Bong Bunnarith.

Di rumah sakit lain di Sisophon, puluhan pasien dengan gejala serupa juga dirawat, sebagian menggunakan masker oksigen.

Seorang prajurit, Khat Phally, menuding serangan udara Thailand sebagai penyebab kondisi tersebut. “Mereka menembakkan asap beracun ke pangkalan kami dari udara untuk meracuni kami,” ujarnya.

Tuduhan serupa disampaikan polisi Khieu Sophan yang mengatakan, “Sesaat setelah penembakan, saya merasa seperti sesak napas, dan tubuh saya tiba-tiba melemah.”(DH)