MEJA matangkan rights issue untuk akuisisi Trimata Coal
Rabu, 22 Juli 2026
JAKARTA - PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) terus mematangkan rencana akuisisi PT Trimata Coal Perkasa (TCP) melalui aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Selasa (22/7), Perseroan telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 21 Agustus 2026.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham akan dimintai persetujuan untuk memberikan kuasa kepada direksi melaksanakan penambahan modal dasar Perseroan sebagai bagian dari persiapan rights issue guna mendanai rencana akuisisi TCP.
Seiring proses tersebut, Perseroan tengah menyelesaikan audit laporan keuangan periode Juni 2026. "Sebagai salah satu persyaratan aksi korporasi,” tulis manajemen.
Perseroan turut menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik untuk mendukung rencana perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan induk (holding company).
Seperti diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, PT Triple Berkah Bersama (Triple B) selaku pengendali MEJA mengungkapkan tengah menyiapkan pendanaan untuk mengakuisisi saham TCP.
Direktur Utama Triple B, Noprian Fadli, mengatakan perseroan bersama pemegang saham pengendali TCP sedang menyiapkan seluruh kebutuhan agar MEJA dapat menggelar RUPSLB terkait penambahan modal dalam rangka akuisisi tersebut.
"Saat ini kami dengan PSP (Pemegang Saham Pengendali) TCP sedang mempersiapkan hal-hal yang diperlukan agar MEJA dapat menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, untuk penambahan modal, untuk rencana akuisisi tersebut," kata Noprian.
Pada 22 Desember 2025, Triple B dan TCP menandatangani perjanjian akuisisi bertahap sebesar 45% saham TCP. Setelah penandatanganan tersebut, TCP menunjuk PT Mitra Abadi Mahakam (MAM) untuk mengelola kegiatan eksploitasi tambang batu bara miliknya di Tungkal Lir, Banyuasin, Sumatera Selatan.
Noprian mengatakan MAM menargetkan produksi batu bara mencapai 1,5 juta ton pada 2026 sesuai rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang telah disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Produksi tersebut telah memiliki calon pembeli, yakni Agro Energy Trading Pte Ltd. (DH)