Terdesak EV China, Uni Eropa longgarkan larangan mobil BBM

Kamis, 18 Desember 2025

image

JAKARTA - Uni Eropa berencana melonggarkan kebijakan larangan penjualan mobil baru bermesin pembakaran internal mulai 2035, menyusul tekanan kuat dari industri otomotif regional. Langkah yang diumumkan Komisi Eropa pada Selasa ini dinilai sebagai kemunduran terbesar UE dari agenda hijau dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip reuters.com, kebijakan tersebut masih menunggu persetujuan pemerintah negara anggota dan Parlemen Eropa, namun jika disahkan akan membuka ruang bagi penjualan berkelanjutan kendaraan non-listrik.

Produsen mobil di Jerman dan Italia termasuk pihak yang paling vokal mendesak pelonggaran aturan, di tengah tantangan persaingan ketat dengan Tesla dan produsen kendaraan listrik asal China.

Komisi Eropa mengusulkan perubahan target emisi, dari kewajiban nol emisi penuh pada 2035 menjadi pemangkasan 90% emisi CO₂ dibandingkan level 2021. Produsen otomotif juga akan diizinkan mengimbangi sisa emisi melalui penggunaan baja rendah karbon, bahan bakar sintetis, serta biofuel non-pangan.

“Membuka pasar bagi kendaraan bermesin pembakaran sambil mengompensasi emisi adalah langkah pragmatis dan sejalan dengan kondisi pasar,” kata Volkswagen, produsen mobil terbesar di Eropa.

Namun, pelonggaran kebijakan ini menuai kritik dari kelompok lingkungan. Dominic Phinn dari Climate Group menyebut langkah tersebut sebagai “kemenangan tragis” bagi industri otomotif konvensional.

“Pelonggaran terhadap penghapusan mesin bensin dan diesel bertentangan dengan perusahaan-perusahaan terkemuka di Eropa, yang menginvestasikan miliaran dolar dalam armada listrik dan sangat membutuhkan stabilitas yang diberikannya,” ujarnya.

Komisi juga memberikan masa transisi tambahan bagi produsen mobil untuk mencapai target pengurangan emisi, termasuk jendela waktu 2030–2032 serta pelonggaran target emisi van. Kebijakan ini muncul di tengah pelemahan permintaan kendaraan listrik global, termasuk di Amerika Serikat, yang ditandai oleh langkah Ford menghentikan sejumlah model EV dan mencatat penurunan nilai aset besar.

Meski demikian, analis menilai arah kebijakan UE menjadi semakin fleksibel. “Realitasnya lebih kompleks, kita kemungkinan akan melihat pergeseran dari pemutusan hubungan yang mutlak dan menyeluruh, ke sistem kepatuhan yang lebih fleksibel, yang menandai titik balik dalam kisah transisi Eropa,” tulis Jefferies.

Produsen mobil Eropa, termasuk Volkswagen dan Stellantis, telah memperingatkan lemahnya permintaan EV serta meningkatnya tekanan dari produsen China, baik di pasar domestik maupun global. Tarif UE terhadap EV buatan China dinilai hanya memberi perlindungan terbatas.

Dari sisi industri EV, pelonggaran target emisi dikhawatirkan melemahkan investasi dan daya saing Eropa. “Pergeseran dari target nol emisi 100% yang jelas menjadi 90% mungkin tampak kecil, tetapi jika kita mundur sekarang, kita tidak hanya akan merusak iklim. Kita juga akan merusak kemampuan Eropa untuk bersaing,” kata CEO Polestar, Michael Lohscheller.

Komisi Eropa menegaskan tetap akan mendorong adopsi kendaraan listrik, termasuk melalui peningkatan penggunaan EV di armada perusahaan dan pembentukan kategori regulasi baru untuk EV kecil yang diproduksi di dalam negeri, dengan insentif tambahan untuk mendukung transisi industri otomotif Eropa.(DH)