Lazard: 2025 Akan dikenang sebagai berakhirnya status safe haven dolar
Kamis, 18 Desember 2025
JAKARTA – Ron Temple, Chief Market Strategist di Lazard, memprediksi tahun 2025 menjadi titik berakhirnya era "eksepsionalisme Amerika" di pasar keuangan global.
[[ Eksepsionalisme Amerika (American exceptionalism) adalah keyakinan bahwa Amerika Serikat memiliki posisi yang unik, unggul, dan berbeda secara struktural dibanding negara lain. Dalam konteks pasar keuangan, istilah ini biasanya berarti dolar AS selalu menjadi safe haven, dan obligasi pemerintah AS diperlakukan sebagai aset bebas risiko. ]]
Temple memperingatkan bahwa kekhawatiran mendalam terhadap prospek makro ekonomi Amerika Serikat (AS) akan memicu pergeseran fundamental, di mana investor mulai meninggalkan dolar AS dan aset-aset berisiko lainnya.
Seperti dilansir dari businessinsider.com (16/12), Temple memproyeksikan bahwa transisi ini akan dimulai dari langkah investor melakukan lindung nilai (hedging) mata uang untuk mengurangi eksposur terhadap dolar, sebelum akhirnya melepas aset seperti US Treasurys dan saham saat memasuki tahun 2026.
Pemicu utamanya adalah keraguan pasar terhadap kredibilitas The Federal Reserve yang menghadapi tekanan politik dari Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif, langkah yang berisiko memicu inflasi kembali.
Selain itu, beban utang nasional AS yang mencapai rekor US$38 triliun tahun ini semakin memperburuk persepsi risiko.
Temple menyebut bahwa 2025 mungkin akan dikenang sebagai tahun di mana obligasi pemerintah AS (Treasurys) mulai dipandang sebagai aset kredit berisiko, bukan lagi aset bebas risiko (risk-free asset).
Pandangan skeptis Lazard ini sejalan dengan proyeksi lembaga keuangan besar lainnya.
Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan pasar saham AS akan mencatat imbal hasil terburuk dalam satu dekade ke depan dibandingkan pasar global. Sementara Bank of America dan Apollo memperingatkan potensi terjadinya "dekade yang hilang" (lost decade) dengan pertumbuhan stagnan bagi indeks S&P 500. (SF)