Ekspor batubara dunia tahun 2025 turun, pertama kali sejak 2020

Kamis, 18 Desember 2025

image

JAKARTA - Ekspor batubara termal global mencatat penurunan tahunan pertama sejak 2020 pada 2025, seiring merosotnya pembangkitan listrik berbahan bakar batubara di pasar-pasar utama Asia.

Data Kpler menunjukkan volume ekspor batubara uap lewat jalur laut diperkirakan hanya mencapai sekitar 945 juta ton, turun 5% atau sekitar 50 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Dikutip thedailystar.net, pelemahan ini terutama dipicu oleh penurunan impor di Asia kawasan konsumen batubara terbesar dunia yang turun 7% secara tahunan. Kondisi tersebut memunculkan sinyal bahwa volume ekspor batubara global berpotensi telah mencapai puncaknya dan bisa terus menyusut ke depan.

Asia menyerap sekitar 89% dari total impor batubara termal sepanjang 2025, dengan total impor mencapai 841 juta ton. China tetap menjadi importir terbesar dengan sekitar 305 juta ton, disusul India 157 juta ton, Jepang 100 juta ton, Korea Selatan 76 juta ton, dan Vietnam 45 juta ton. Namun, hanya Korea Selatan dan Vietnam yang mencatat kenaikan impor di antara lima pasar terbesar.

China dan India, yang bersama-sama menyumbang hampir separuh impor batubara dunia, sama-sama memangkas pembelian tahun ini. Penurunan impor terjadi seiring meningkatnya produksi batubara domestik dan bertambahnya pasokan listrik dari sumber energi lain.

Di China, perlambatan ekonomi serta kebijakan pengendalian kelebihan kapasitas turut memengaruhi dinamika sektor batubara. Selain itu, percepatan pengembangan energi bersih membuat porsi batubara dalam pembangkit listrik turun ke level terendah sepanjang sejarah pada 2025.

Sementara itu di India, produksi tambang domestik yang mencetak rekor dan meningkatnya kontribusi energi terbarukan telah menekan penggunaan batubara di sektor kelistrikan. Kondisi ini bahkan mendorong pemerintah India menerbitkan izin ekspor batubara, yang berpotensi meningkatkan persaingan antar eksportir mulai 2026.

Dalam jangka pendek, peningkatan ekspor dari India dapat menekan margin eksportir lain, termasuk Indonesia dan Australia. Namun dalam jangka panjang, penurunan konsumsi batubara di China, India, dan negara konsumen utama lainnya berisiko mendorong penyusutan berkelanjutan volume ekspor batubara global dan kontraksi industri secara keseluruhan.(DH)